Rabu, 07 April 2010

TEROR YANG MENYASTRA

TEROR YANG MENYASTRA

Cunong N. Suraja
Pengajar Intercultural Communication Universitas Ibn Khaldun Bogor

Sastra teror dikenalkan oleh Putu Wijaya terutama dalam bentuk drama dan dalam kisah cerita pendek dan novelnya. Kisah kisah Putu Wijaya memang memberi tikungan dan logika yang kebalik atau istilahnya logika gila. Seperti dalam novel "Lho" logika Putu yang selalu awas mencurigai sekelilingnya seakan-akan mengancam membunuh tokoh novel. Demikian juga dalam Novel pendek "Sobat" tokoh Aji dibunuh karena kecemburuan dan ujung kisahnya si Pembunuh tergantung di tiang listrik seakan dendeng kering. Belum lagi cerita panjang "Stasiun" tokoh orang tua yang berangkat dengan bemo menuju ke stasiun mau meninggalkan kota atau pindah ke kota lain yang juga menggantung diri atau diperkosa homo di paturasan kereta yang sedang berjalan dengan keadaan penuh sesak.
Putu memang jagonya dalam meneror penonton drama lewat drama "Lho" yang mengenalkan monolog kentut dan "Zat' dengan beragam boneka dan kecepatan percakapan bahkan tanpa kata yang merupakan perkembangan Bip Bop artau mini kata Rendra dan mengorek kesakitan seperti Arifin C. Noor dalam "Mega-Mega" maupun seluruh episode drama Teater Kecil.

Teror ternyata justru mengasyikkan. Tidak seperti cerita wayang yang datar segepeng wayang Jawa.

Penulis lain yang suka dengan gaya teror adalah Seno Gumira Ajidarma. Pencerita ini menyukai komik dengan latar pendidikan yang pelangi mulai dari sinomatografi, filsafat dan berujung dengan Doktor Sastra dengan disertasi komik. Cerita pendek berjudul "Clara" dalam kumpulan "Iblis yang tak Pernah Mati" bercerita suasana seusai lengsernya Soeharto yang menciptakan chaos pada penduduk nonpri yang diperkosa dan dibunuh. Novel "Negeri Senja" yang dapat hadiah Katulistiwa dengan mencekam menawarkan kehidupan politik di negara tanpa malam tanpa siang, hanya senja! Matahari mengantung tak tenggelam. Penduduknya bersorban dan bercadar karena takut badai gurun. Intrik perebutan kekuasaan dikuasai oleh rayu buta mata buta hati karena sakit hati. Penduduk serba ketakutan dan menunggu penunggang kuda dari selatan yang kan bikin perubahan. Hingga akhir cerita penunggang kuda dari selatan tak datang-datang dan telah terjadi huru hara dengan gantungan wasiat yang menggeleng di leher keledai penggebara antar bangsa.
Cerita yang lain adalah semi wayang gagrak Ramayana seusai kekalahan Rahwana dengan tokoh Maneka dan Satya yang memburu "Kitab Omong Kosong" yang bermula dari pesta kuda dari kerajaan Rama yang masih tidak yakin atas kesetiaan Sinta. Teror kuda putih yang dilepas itu tertempel pada tato di punggung pelacur yang meloncat keluar jendela dan memnggucangkan prahara bagi kota yang tersinggahi karena dihancurkan oleh tentara Ayodya jika melawan. Kuda putih itu terus berlari sepanjang cerita menerorangan pembaca yang setia merunut bab demi bab yang mengasyikan.

Ketika fakta dibungkam maka sastra mengedepan kata Seno Gumira Ajidarma. Hingga lahirlah sebuah muzaik cerita atas fakta Parfum, cerita fakta atas Jazz dan berita yang dengan label merah karena sifat politisnya Insiden demikian juga pengalihan kata dan penghapusan jejak nama sosok jadilah berita jadi bagian perlawanan teror atas fakta yang dibungkam.
Sukab tokoh pilihan Seno juga mencoba membuat teror dalam bentuk komik yang nantinya akan bergulir jadi sebuah disertasi sastra. Tapi jangan coba cari teror di balik disertasi Seno karena itu karya ilmiah yang betul menuntut kaidah ilmiah.
Sastra Seno yang membentangkan teror anak autis atas imajinasi skenario film "Biola tak Berdawai" dengan pandangan si autis atas orang sehat tersimpan dalam novel sepanjang 250 halaman.
Adakah karya Seno melibatkan teror walau berpijak dalam hikayat wayang purwo? Juga yang benar-benar berpijak pada berita politis yang diblok hitam, merupakan karya Seno yang berupa kolase semisal pada "Kalathida". Seno adalah peneror lanjutan setelah Putu mulai kendor. Jejak teror yang lain yang mukin agak halus terornya kalau mau dibilang sopan adalah Hudan Hidayat. Cerita pendeknya benar-benar unsur teror yang selalu awas. Hudan yang membuat kelompok antagonis sastra Indonesia yang mencoba membongkar tradisi sastrawan periode Horison berserta penyair dan dramawan Afrizal Malna. Hudan yang merajai facebook dengan linknya yang berlenggak-lenggok tapi maskulin mennyentuh sudut kepribadian penulis pendatang aset bangsa Indonesia masa depan.

TIGA SAJAK LANDUNG SIMATUPANG VERSUS SATU SAJAK TULUS WIJANARKO

Dua penyair ini pernah mengeram dan berusaha menetaskan telor sarjananya di kampus yang sama. Sama-sama di daerah Bulaksumur sebuah sumur ilmu pengetahuan yang maha Gajah nan Mada. Jelas sekarang mereka bukan lagi pelancong intelek yang mengitari cemara tujuh di depan Balairung yang tegap megah. Keduanya memang berkutub beda, satu di sastra (sekarang ilmu budaya) yang lain di ekonomi. Ujung pengabdian hidupnya jelas beda satu sebagai pemain drama, pembaca cerpen dan pemain film ( “Sang Pemimpi” serial “Laskar Pelangi”) yang lain jadi pemain jurnalistik di kelompok media perkasa “Tempo”.

Sebagai pelancong intelek di bilangan cemara tujuh Bulaksumur keduanya menggeluti wilayah pelik dan muskil yakni puisi. Landung menyodorkan tiga judul dan Tulus sebagai seorang ekonom tulen cukup sejudul saja Tetapi penampilan mereka di notes Facebook mnyodorkan sasaran tembak yang sama: M A T A H A R I. Kosa kata yang senantiasa menandai kehidupan.

Dalam sajak Landung dengan tegas kosa kata itu muncul murni tanpa gincu “figurative language” bahkan salah satu judulnya memang dengan lugas menyebut “MATAHARI GARUDA” dan ketegasan itu karena ciri Simatupang yang merujuk pada etnis yang telah teruji. Sedang Tulus dengan nama belakang yang juga teruji asal etnisnya bersikap seperti etnisnya yang suka menyamarkan dalam kosa kata yang berkonotasi matahari.

Perhatikan ungkapan yang ada di sajak Landung

Telanjang ia bagai matahari. (BUNGA, UNTUK ENGELINA)

matahari menyembunyikan gelap
……..
'Matahari culas itu selalu hahahihi menyembunyikan kelam dari anaknegeri'
(MATAHARI GARUDA)

Matahari sebentar lagi bangkit, dan mereka membatin syukur
(AYAM MENCATAT CODOT)

Sedangkan Tulus hanya menyarankan adanya matahari pada baris-baris manis berikut

sore terbelah disana begitu saja
…………..
tegak seperti sore yang terbelah
(MENATAP AWAN)

Memang kalau dikulik sampai jauh mereka sangat berbeda dalam berekpresi lewt puisi. Landung maih mengikuti pakem puisi yang berbicara tentang imaji tanpa busa-busa pemahaman tentang efek sastra kuda yang sering ditunggangi ideology kiri maupun kanan. Landung dengan fasih menerjemahkan alam dalam imajinya yang bersih tanpa pretensi mengupat-gulipatkan kata jadi sebuah metafora. bahakan dengan lugas dengan mengkita mengunci sajak ke tiganya:

“Terbalik-balik makna putih-hitam, pagi-petang, siang-malam antara mereka dan kita, ayam.”

Tak ada kesamaran bahasa dalang ungkapan sajak Landung kalau kita bandingkan dengan ungkapan manis tulis yang bagai mata uang dengan dua muka atau pedang bermata dua mengiris sembilu sekaligus:

dimamahbiak dikiri awan yang terbelah
…………..

dimamah mamalia sepanjang kiri dan kanan

Dalam ungkapan sajak Tulus makna kanan kiri boleh dibekak-bengkokkan pada dunia apa saja atau wilayah apapun. Sehingga penggunaan kata mamah biak dan mamaliapun akan bergulir pada kesamaran yang dapat diurai sampai pada titil jelas ini sebuah contoh sastra kuda. Sastra yang ditunggangi sebuah wcana di luar wacana keindahan atau seni atau budaya. Sedang sajak dapat dicirikan sebagai sebuah pengulangan pencapain para penyair imaji atau simbolis yang lebih dulu bertengger di puncak master piecenya. Baik Landung maupun tulus sama-besar sebesar legenda Gajah Mada yang jadi ikon universitas Yogyakarta.
Bogor seusai gempa di Ujung Kulon




SAJAK-SAJAK LANDUNG SIMATUPANG

Yesterday at 4:39pm
BUNGA, UNTUK ENGELINA
Seorang bocah turun dari langit, menyapa dengan seikat bunga. Rambutnya diburai angin dan udara semerbak aroma. Telanjang ia bagai matahari. Telanjang serupa rembulan. Pada senyumnya yang leluasa harisilam haridepan terbebas dari sihir, pulih ke Sekarang.

MATAHARI GARUDA
Sepanjang tahun, di sini, matahari menyembunyikan gelap, bahkan dari cacing, gangsir, orong-orong dan kalajengking, para pemukim liang, kakiseribu dan kelabang. 'Sepanjang warsa mandi cahaya!' riuh nyanyi anak-anak berseragam pramuka di tanah lapang tengah kota. 'Matahari culas itu selalu hahahihi menyembunyikan kelam dari anaknegeri' gumam garuda bertengger di menara, berkumur darah berlinang airmata.

AYAM MENCATAT CODOT
Sudah terdengar jerit bersahutan di langit. Maka mereka berangkat tidur. Matahari sebentar lagi bangkit, dan mereka membatin syukur. Kaum codot akan lena sampai senjakala. Dalam remang nanti mesti mereka teruskan kehidupan meski kadang limbung dan bimbang. Terbalik-balik makna putih-hitam, pagi-petang, siang-malam antara mereka dan kita, ayam.

TULUS WIJANARKO

MENATAP AWAN

Tuesday, September 15, 2009 at 7:09am
sore terbelah disana begitu saja
dikanan bayangan rumput terinjak
dan tegak memandang seribu mamalia
dimamahbiak dikiri awan yang terbelah

selaksa rahasia terbuka begitu saja
seumpama rerumputan kehilangan bayangan
dimamah mamalia sepanjang kiri dan kanan
tegak seperti sore yang terbelah
begitu saja.

GEMPA YANG MENJARING PENYAIR-PENYAIR SAJAK-SAJAK GEMPA

Gempa memang bencana tetapi juga merupakan wahana solidaritas sehingga melahirkan banyak kumpulan orang yang mencoba memungti recehan agar terkumpul bagi sumbangan yang embutuhkan seprti super misalnya atau sekenanya dengan susunan kata memunculkan penyair lokal bencana mendulang kreatifitas yang hampir-hampir senada. Walau bukan interaktif atraktif sajak mereka hampir seperti anak yatim piatu menghadang lembaran kata dermawan dengan menyanyikan pujian dlam baju lusuh yang sewarna.

Asep Sambodja memulai penyair dengan abjad “A” menorehkan dua judul dengan gempa (Narasi Gempa dan Kitab Gempa) Cunong N. Suraja dengan Rendang Gempa 2009, dan Heri Latief dengan Mata Hati Gempa sedangkan penyair yang lain memunculkan suasana gempa pada tubuh puisinya yang banyak mengundang tato figurative language dengan majas yang popular simile dan metafora. Gempa merupakan gerakan sesaat yang mengakibatkan bencana yang berlarat-larat dan itu merupaka sabda seperti yang telah ditelusuri Asep Sambodja.

Kun fayakun
maka yang terjadi, terjadilahâ

ketika kata menjelma gempa

……..
aku pahami puing-puing
aku berdoa untuk serpihan tubuh
yang remuk
demi menjaga jiwa ini
agar tak terguncang lindu
(Narasi Gempa)

sejarah luka termaktub dalam kitab gempa
jutaan orang telah membacanya
tapi ada yang mencoba menyungsang
dan mengingkarinya
(Kitab Gempa)

Sedang Cunong N. Suraja mendata dalam sabda yang tanpa jeda nafas di ujung sajaknya.

masih juga kami ternganga atas keperkasaanNya karena kita hanya debu yang terguncang lenyap dalam belantara sabda
(Rendang Gempa 2009)

Padahal sebagai penyair yang terua dalam kelompok penjaring gempa kali ini mencoba membuat catatan yang seakan akurat jalur lempeng getaran imajinya. Simak puisi berikut ini:
YOGYA - TASIKMALAYA - PADANG DALAM SKALA RICHTER

belum lepas luka bumi merekah bak delima masak digoncang naga gempa
Yogya yang baru membenahi jahitan luka teriris duka
merembet ke barat bibir pantai samodra Hindia dalam gigilan seusai makan siang
meluluhlantakkan meruntuhkan bibir ngarai rapuh di bumi Pasundan Selatan
jangan tanyakan tangan kaki siapa terangkat dengan darah lebam
menyusruk dalam rintihan runtuhan bangunan tak tahan goncangan
belum habis tisue basah mengusap air mata meleleh tak bermuara
kembali rengkahan rongga perut bumi Sumatra Barat di selimut samodra meronta
meminta korban yang tak pilih usia muda teruna tua renta
getaran demi getaran menggetaran dunia angan untuk meratapi kedunguan keledai
senantiasa terantuk pada batu yang sama
batu yang didorong Sisypus yang kemudian menggelinding turun ke lembah derita
kudapan berita breaking news yang makin samar arti duka hiburan mata layar kaca
mereka meramu nestapa seakan iklan makanan cepat saji penuh gizi
tak lagi berpikir luka itu tetap luka tak sersembuhkan: Gempa Patahan Lempeng Bumi!

Gempa telah jadi wacana hingga infotainment karena kadar beritanya yang selalu beda dan membedakan makan tak heran kalua Asep Sambodja mengaiktak dengan wacana lama juga dengan jusul yang menyaran:

Misteri G30S

Gerakan 30 September 1965
menyisakan misteri
matinya jutaan rakyat Indonesia

Gempa 30 September 2009
menyimpan memori
kuburan massal di Padang Pariaman

Hal ini sebagai menu harian bagi Heri Latief yang selalu memihak dengan teriakan khas proletarnya dalam sajak gempa ini:

orang jahat memanipulasi derita rakyat
jangan biarkan burung bangkai merajalela
ayo bangun solidaritas demi keadilan!
(KONTAMINASI)

Pada penyair yang mempunyai ikatan batin dengan Ranah Minang tidak langsung smena-mena menusuk pada masalah gempa. Hal ini tampak pada puisi Heri Latief dan Mila Dutchlun.

dana bencana dicolong maling dan garong
tanyalah pengalaman pahit korban tsunami
berapa trilyun ongkos merenovasi bank century?
(Heri Latief dalam KONTAMINASI)

Rasanya getaran itu sampai padaku
Ketika Zurich sibuk melipat malamnya
Mimpiku terus memejam
Ibu berjalan terpincang-pincang
Memintaku untuk pulang
(Mila Dutchlun dalam SESAL)

Sebuah taman pulang
Di iring kembang mayang
Mulutnya sunyi seperti sajak tak berbunyi
Dikaram suara derap langkah tim evakuasi
Yang melafalkan ayat-ayat suci
(Mila Dutchlun dalam TAMAN YANG HILANG)

Dua penyair lain dengan latar belakang pekerjaan sebagai “pelancong” baik berita maupun pariwisata dengan latar belakang etnisnya yang Jawa serta kadar keintiman dengan lokasi gempa di ranah Minang hanya menangap esensi bencana sebagai berita saja. Simak puisi mereka:

Dony P. Herwanto

MAYAT

setelah dikepung resah
seorang laki-laki menghitung mayat ditepian
: ini wajah siapa?

Sigit Susanto

ANGAN YANG TERJUNGKAL

menit yang lewat
seonggok cita
melejit, melompat
menit yang kini
ditelan sang kala

Tak bisa dielakan maupun dipungkiri latar belakang kehidupan penulis memang memegang peranan dan semakin banyak usia semakin berwarna ungkapan dan mitos maupun referensi yang tertempelkan dengan kukuh pada setiap pupuhnya. Masih perlukah diperdebatkan bahwa pengarang tak mati-mati dan tak mungkin membicarakan sastra hanya sastranya tanpa embel-embel teori dan penulisnya? Itulah bukti Cunong dan Asep lebih mampu mengendalikan imaji dan emosi serta pemilihan kata atau diksi yang disebarkan dalam menjaring peristiwa demi peristiwa yang terpantul pada mitos maupun referensi dibandingkan dengan potret-potret suasana yang dihamparkan Sigit dan Dony yang lebih berkadar berita fakta dibandingkan dengan imaji emosi yang kental dengan pengalaman batin yang luruh tunggal menyatu dalam tubuh puisi.
Seandainya saja Heri dan Mila tak punya hubungan batin dengan ranah Minang tentunya akan lebih kuyup potretan swasana katimbang ungkapan rasa yang melekat pada bait-bait sajaknya. Heri yang pada awal penulisan puisinya meledak-ledak dengan diksi prokemnya memang makin mulus dalam pengungkapan tapi tetap lugas dalam menyalakkan auman protesnya. Adakah beban Rendra dapat dibebankan pada Heri Latief di masa datang? Ini merupakan tantangan bagi Heri untuk makin mematangkan ilmu kalam dan rasanya. Kejujuran tanpa olesan lekuk legit goyangan nan elok cantik akan menjadikan puisi semacam pamphlet atau kata-kata demostran yang terngiang di telinga penguasa sebagai bisul saja. Tak kan banyak diharap merubah wacana pejabat yang akan tetap mendekati sikap korup.
Bagi Cunong dan Asep yang memang punya kartu truf dari FIB UI tak pelak lagi akan meluncur makin mulus kalau saja tidak hanya sibuk memotret tapi harus makin menukik tanpa menunggu hadirnya bencana untuk berkarya. Teori sastra pasti sudah menjadi bagian menu sarapan pagi dan memaknai sastra adalah cemilan malam sebelum naik ranjang.
=====
Asep Sambodja:

Narasi Gempa

Kun fayakun
maka yang terjadi, terjadilah…

ketika kata menjelma gempa
dan tubuh menjadi luka
maka gedung-gedung pun runtuh
bukit-bukit longsor menguruk
dan airmata mengalir tak terbendung

jika ini takdir
sudah ribuan takdir mengakhiri
perjalanan hamba-hambaMu
jika ini kutukan
sudah berabad lalu
orang-orang tertimbun tanah pijakan

“Kepunyaan Allah di timur dan barat
maka kemana pun kamu menghadap
di situlah wajah Allah.” *)

barangkali kita harus terus berdoa
tak sedetik pun luput dari doa
karena ajal tak berjarak
dan kapan saja mengada
di depan kita
hingga tak ada lagi ruang tuk bergerak

“Almutu ayatul hubmis sadiq
Maut adalah alamat cinta yang sejati.” **)

aku pahami puing-puing
aku berdoa untuk serpihan tubuh
yang remuk
demi menjaga jiwa ini
agar tak terguncang lindu

Citayam, 10 Oktober 2009

*) Surat Al Baqarah ayat 115. Kun fayakun pada puisi di atas dikutip dari Surat Al Baqarah ayat 117.
**) Dari sebuah tulisan Buya Hamka.


Kitab Gempa

sejarah luka termaktub dalam kitab gempa
jutaan orang telah membacanya
tapi ada yang mencoba menyungsang
dan mengingkarinya

kitab gempa luth menggoyang
laki-laki yang tak bisa mencintai perempuan
dan perempuan yang tak bisa mencintai laki-laki

kitab gempa musa mengguncang
orang-orang yang menyembah karyanya sendiri
dan abai padaNya

Tuhan,
tutuplah kitab-kitab gempa ini
dan cukupkan sampai di sini
Citayam, 10 Oktober 2009


Misteri G30S

Gerakan 30 September 1965
menyisakan misteri
matinya jutaan rakyat Indonesia

Gempa 30 September 2009
menyimpan memori
kuburan massal di Padang Pariaman


Citayam, 10 Oktober 2009
Asep Sambodja lahir di Solo, 15 September 1967. Penyair dan juga dosen Sastra Indonesia di FIB UI ini telah menerbitkan kumpulan puisi Menjelma Rahwana (1999), Kusampirkan Cintaku di Jemuran (2006), dan Ballada Para Nabi (2007). Ia juga menerbitkan buku Cara Mudah Menulis Fiksi (2007).


Cunong N. Suraja

RENDANG GEMPA 2009

masih menggolak santan di penggorengan kita siap santap nanti malam menjelang isya. tapi apa mau dikata ketika sabda berjuntai dari arasyi tak kasat mata menunjuk titik jauh di perut bumi yang sarat lipatan bencana demi bencana

masih menggolak juga gulai santan sayur nangka bersanding rebusan daun ketela dihadapkan pada sambal hijau pedas tiada tara senyampang rumpang bumi menganga menggetarkan amarah tertahan ratusan tahun silam

masih juga angka perkara muskil dicerna terbata-bata tentang peringatan kitab suci akan petaka bagi pendurhaka maupun sentuhan bijak pada perambah melata merayapi bumi dengan dzikir ilahinya

masih juga kami ternganga atas keperkasaanNya karena kita hanya debu yang terguncang lenyap dalam belantara sabda

CATATAN PETAKA DEMI PETAKA

sejak Nuh peringatan atas ulah tak sadar membanjir air di seantero muka bumi
juga saat Luth murka umatnya saling suka sesama jenis dan membaliklah bumi di punggungnya. apalagi ketika tongkat Musa membelah dan menyatukan laut mengubur hidup Fira’un sang pedurhaka penghujat illahi.

nyali apa lagi yang kan kau sodorkan pada sentuhan jari maha perkasa yang tak setetes pun ibarat air lautan pada kekuatan yang telah di anugrahkan padamu dengan gratis. hanya sembahlah Dia jika kau ingin petunjuk yang lurus.

tapi manusia tempatnya lupa selalu bergunjing pada hal muskil sepele lalu ingat saat petaka tiba saling menuding kesalahan pada pihak lain tanpa kembali membuka kitab petunjuk yang senantiasa benar

petaka itu muncul tiba-tiba menghardik pendurhaka mengingatkan para pelancong bumi yang runduk saat tiba menyerahkan diri pada khaliknya

SISA BERITA KOTA

dari layar kaca berpendar warna warni cerita tentang petaka hadir tiba-tiba menyapa tanpa pilih membuncah memburu liang sembunyi pendosa merajam kota mati luka kecuali kemusnahan melesap ke perut buana membara kemarahan tertahan bertahun-tahun tersimpan pesan terlipat kitab-kitab peringatan terabaikan dalam goa-goa kelam lembab tak bercahaya menunjukkan kelalaian demi kelalaian perkara purba sia-sia terbata terbaca menghampiri saat jeda

dari pendaran kata tersisa kalimat nista nestapa hampa tanpa asa kotapun gelap musnah dalam peta terselip pada kulit kayu teronggok di sudut runtuhan bangunan tak tahan guncangan kota tertinggal dalam benak kamera pemberita televisi kota tua

YOGYA - TASIKMALAYA - PADANG DALAM SKALA RICHTER

belum lepas luka bumi merekah bak delima masak digoncang naga gempa
Yogya yang baru membenahi jahitan luka teriris duka
merembet ke barat bibir pantai samodra Hindia dalam gigilan seusai makan siang
meluluhlantakkan meruntuhkan bibir ngarai rapuh di bumi Pasundan Selatan
jangan tanyakan tangan kaki siapa terangkat dengan darah lebam
menyusruk dalam rintihan runtuhan bangunan tak tahan goncangan
belum habis tisue basah mengusap air mata meleleh tak bermuara
kembali rengkahan rongga perut bumi Sumatra Barat di selimut samodra meronta
meminta korban yang tak pilih usia muda teruna tua renta
getaran demi getaran menggetaran dunia angan untuk meratapi kedunguan keledai
senantiasa terantuk pada batu yang sama
batu yang didorong Susypus yang kemudian menggelinding turun ke lembah derita
kudapan berita breaking news yang makin samar arti duka hiburan mata layar kaca
mereka meramu nestapa seakan iklan makanan cepat saji penuh gizi
tak lagi berpikir luka itu tetap luka tak sersembuhkan: Gempa Patahan Lempeng Bumi!

Saturday, October 3, 2009 at 10:54am

ADAKAH YANG TERSISA PAGI INI?

dari pendaran elektron layar kaca mewartakan kesedihan tanpa tara
rekah tanah longsoran bumi basah serta mie instant dijarah

dari pendaran peristiwa melintas segala imaji luka bumi dan negri
ketika alam meregang maka nyawa melayang dalam timbunan seketika

dari cerita burung menyeruak lewat mulut serak
selalu mereka menawar itu sebagai peringatan bukan perusakan

dari duka maha dalam
hanya tangan terkatup pasrah atas kehendakNya


BIODATA
Cunong Nunuk Suraja lahir di Yogyakarta, 9 Oktober 1951
tinggal di Bogor dan mengajar Intercultural Communication di Universitas Ibn Khaldun Bogor


Dony P. Herwanto
Seorang Gadis Kehilangan Nama
Gadis itu ditemukan tanpa nama di sebelah makam ibunya. Dua laki-laki tegap menghampiri mayat si gadis dasar laki-laki bermata biru, dia bertanya kepada mayat tentang asal usulnya. Dua laki-laki itu terus mencari nama mayat gadis itu. Mereka tak menemukan nama di sekujur tubuh yang mulai memerah darah ’tak ada nama’ jawab salah seorangnya. Ibarat khusyuk doa, nisan diam

Gadis itu tetap kehilangan nama
2009
Mayat
setelah dikepung resah
seorang laki-laki menghitung mayat ditepian
: ini wajah siapa?
2009
Berapa Bayangan Sudah Tuan Hitung
tuan pun lupa menghitung berapa bayangan yang aku tinggalkan
di lantai waktu dan di dinding batu
tuan telah menghitung berapa telur yang menggelinding di pipa-pipa rindu?

- selalu seperti itulah bisu

sayap di kepala tuan pun seperti dua pedang
yang siap menikam bayangan itu.
lagi-lagi, tuan hanya terdiam
dan asik bercanda dengan sepi

gadis telanjang dalam bingkai,
sayap merah tak berbayang

tak butuh kalkulator untuk menjumlah sunyi
pun tak butuh secarik kertas untuk muntahkan lelap
hanya resah yang melangit ketika gerak tanah menusuk kaki tuan
2009
Biodata
Dony P. Herwanto., Ngawi 24 April 1983. Sejumlah puisinya pernah dimuat di Kompas.com, Jurnal Nasional, Pabelan Pos, Solo Pos, LPM Psyche, Ibn Sina, fordisastra.com. Juga masuk dalam sejumlah Antologi Puisi Borgol #1 (2004), Antologi Borgol #2 (2005), Antologi Puisi 9 Penyair Jawa Tengah (Diterbitkan Taman Budaya Surakarta, 2007), Jurnal Sastra Komunitas Menulis Bogor (2009) dan Antologi Puisi Majelis Sastra Bandung (2009)

HERI LATIEF

MATA HATI GEMPA

mengenang mereka yang hilang
seperti duri di batin terluka
kapan pulang nunggu siapa?

tujuh hari berduka hatimu
mimpi sedih anak yatim piatu
realitas hidup ganas membatu

ke langit semua keluh mengadu
dunia maya tempatnya cerita
pedihnya duka korban gempa

Amsterdam, 7 Oktober 2009

KONTAMINASI

bencana alam datang tak diundang
bayangan maut menyapa siapa takut?
tangisan korban gempa mengadu kemana?
dana bencana dicolong maling dan garong
tanyalah pengalaman pahit korban tsunami
berapa trilyun ongkos merenovasi bank century?
jawabnya tong kosong nyaring bunyinya
orang jahat memanipulasi derita rakyat
jangan biarkan burung bangkai merajalela
ayo bangun solidaritas demi keadilan!

Amsterdam, 08/09/200

MILA DUCHLUN

SESAL

Rasanya getaran itu sampai padaku
Ketika Zurich sibuk melipat malamnya
Mimpiku terus memejam
Ibu berjalan terpincang-pincang
Memintaku untuk pulang

Dan gempa itu menghantam dadaku
Dering telepon seakan menyumbat aliran darah
Segala mual meluap parah
Setiap suara bertanya
“ adakah ibu disana baik-baik saja”?

Oh kumohon Tuhan, kumohon!
Sedetik saja, sedetik ketika Engkau guyah tanah itu
Biarkan aku menyambar tubuh ibuku
Membawanya keluar dari reruntuhan

Tetapi, kakiku ini berisi sunyi
Begitu jauh lautan membekapku
Bahkan pesawat terbaikpun
Tak mampu mengantarku
Melindungimu ibu

Dering telepon terus berbunyi
Jenazah ibu ditemukan di balik puing-puing rumah kami
Tetapi aku masih saja disini
Mengikat sedih, merekatkan kesal
Menjadi lagu-lagu jiwa yang sesal

Tanjungpinang, 031009

TAMAN YANG HILANG

Sebuah taman pulang
Di iring kembang mayang
Mulutnya sunyi seperti sajak tak berbunyi
Dikaram suara derap langkah tim evakuasi
Yang melafalkan ayat-ayat suci

O buyung,
Jasadmu memenggal mataku
Bulirnya menuruni pelipisku
Begitu cepat, begitu laju
Selaju ratusan ruh
Yang bersemburat di atas langit kotamu

Tanjungpinang, 031009

JIKA AKU TAK SAMPAI

Jika aku tak sampai
Ingat saja aku pernah ada
Menanam bunga dalam taman jiwamu
Dan meniup dedaun hatimu
Rumput-rumput yang kita temu dulu juga tau
Aku tak pernah melukaimu

Andai sesak yang menyumbat dua lubang hidungku
Mampu membunuhku,
Tentu aku tak perlu menggenggam belati
Menusukkan ke dada
Dan menekannya, menggerakkannya
Hingga segala nyeri menumpuk disana

Tetapi aku masih sampai
Ketika satu persatu puing-puing tembok yang menguburku
Diangkat dari atas tubuh dan wajahku
Kulihat senyumku, menempel pada sebelah jiwamu

Tiba-tiba segala pandang menjadi padang
:ruh ku disuir angin menuju tanah lapang

Tanjungpinang, 031009
Profile:

Mila Duchlun
Lahir di Malang pada tanggal 28 Juni 1977. Buku kumpulan puisi pertamanya adalah
Perempuan Bersayap – 2006. Puisi-puisinya pernah dimuat di Media Indonesia,
Bali Post, Riau Pos, Batam Pos, Majalah Imagio ( dahulu bernama Aksara ,
Antologi puisi Nubuat Labirin Luka, Antologi puisi Jogja 5,9 Skala Richter,
Antologi puisi Mahaduka Aceh, Antologi puisi Komposisi Sunyi – 2007 Dan Tamsil
Syair Api – 2008, keduanya adalah sajak pilihan Riau Pos. Saat ini berkerja
dan menetap di Tanjungpinang Kepulauan Riau.


Sigit Susanto
ANGAN YANG TERJUNGKAL

menit yang lewat
seonggok cita
melejit, melompat
menit yang kini
ditelan sang kala



MENARI DI BUMI API

di ladang mandi keringat
di kantor kedinginan
siesta ala tropicana

bumi batok, mengamok
istana beton ambruk
kakus bambu miring ke kiri

alam menumbuhkan piranti
makhluk peduli, lalu melupa
bumerang

negeri tanpa senja
bambu-bambu tua menunduk
mengajak dipanen menjadi tonggak

pusar bumi membakar, berabad bergenerasi
perlahan menjilat penghuni, pulau ke pulau merekah
goodbyemybelovedcountry



AGENDA TERLUPA

kemarin pesta, menabur janji
petaka alam merebut berita
janji-janji masuk laci

ada duka, ada senyum
ada impian, tak kesampaian
ada negeri, tanpa penghuni


Danau Zug, 22 Oktober 2009

Sigit Susanto, lahir 21 Juni 1963 di Kendal, Jateng. Setamat Akademi Bahasa Asing (AKABA 17) di Semarang, bekerja sebagai pemandu wisata berbahasa Jerman di Bali selama 7 tahun. Sejak 1996 menetap di pinggir danau Zug, Switzerland. Mulai 2006 mengikuti Reading Group Ulysses pada Yayasan James Joyce di Zürich. Telah menulis 4 buku: Sosialisme di Kuba, novel: Pegadaian, Catatan Perjalanan: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, jilid 1 & 2. Kini sedang menyelesaikan terjemahan novel “Proses” dari Franz Kafka.

KRISTALISASI SASTRA CYBER

Bermula dari sekelompok penulis dalam mailing list yang menyatakan diri sebagai penyair dan mengumpulkan karya puisi mereka dan dicetak dalam kemasan buku dengan label sastra cyber maka jatuhlah talak tiga media sastra cetak bawha itu bukan karya cyber tapi merupakan sastra “tong sampah” dan di kemudian hari muncullah sastra FB alias fasilitas facebook yang sudah tak terlabeli sastra “tong sampah”. Maka sampah sampah itu telah bertiwikrama jadi humus kompos rabuk organic yang menyuburkan persemaian sastra yang terwadahi dalam Jurnal Sastratuhan Hudan (JSH)yang dieditori secara maniri oleh penulis “Nabi tanpa Tuhan”. Sila klik : http://www.facebook.com/group.php?gid=33090570679#!/profile.php?v=feed&story_fbid=104835496217082&id=100000033210870. atau dua ;agi link yang dapat ditilik juga menawarkan nostalgia masa depan adalah http://kopisastracyber.webs.com/puisi%20pemberontakan.html, dan arwah Cybersastra dibangkitkan lagi oleh pengampunya sekaligus bidan dan taraji juga dukun mantra dari Universitas Brawijaya dalam lembaran facebook group: http://www.facebook.com/home.php?#!/group.php?gid=33090570679.

Apa makna kebangkitan cybersastra dalam padang persemaian perkawanan facebook? Kembali makna saling asah, saling asuh dan saling asih termanifestasikan dalam manifesto sastra pembebasan model Heri Latief, maupun Apresiasi Sastra yang tidak lagi terbagi dalam kasta-kasta yang melambangkan kotak-kotak atau bilik-bilik budaya dengan membedakan nilai kemanusiaan, kecuali JSH yang masih menyilahkan sekat kasta guru dan kasta murid.

Bagi peminat dan penikmat sastra sebenarnya labelisasi sastra baik mulai sastra lisan, sastra klangenan, sastra hiburan, sastra tulis, sastra cetak, sastra koran, sastra buku, sastra kampus, sastra akademis, sastra kampong (bukan kampungan!), sastra pedalaman, sastra pesisir, sastra bilik/klosed/kamar maupun sastra terbuka pada tembok kota tidak begitu dimaknai dengan acuh dan abai semua bergeming dipusar edarnya masing-masing. Hanya sisa-sisa pemikiran colonial yang ingin membangkitkan feodalistis yang menindas dan fasistis yang ingin adanya kelanggengan pengkotakan antara sastra Balai Poestaka dan Sastra Melayu Pasar yang dahulu didominasi etnis Tionghwa.

Pertemanan di FB yang dapat diakses terbuka tertutup semau gue juga memudahkan pengereman emosi yang meluap-luap jebol membanjiri layar dan kotak komen tar dengan makian maupun pujian, ini juga mengin gatkan fasilitas pertama internet yang dikenal dengan Social Culture Indonesia (SCI) dan sebuah mailing lisr APAKABAR yang dikelola dari negeri Kincir Angin tempat Don Qisot berperang melawan raksasa.

Link dan group yang ditawarkan oleh fasilitasi FB ternyata telah membekakkan makna sastra cyber dan memunculkan kembali krital-kristal lama yang terendam dalam badai kemandegan kesohiban yang sekarang cair mengalir kembali tanpa dituntut adanta iuran bulanan kecuali ada wacana dari pemilik FB meminta bayaran, padahal FB sudah menangguk cukup banyak uang produksi iklan yang nempel di segala lekuk liku sudut segit hamparan penampikan FB. Perlukah laut digarami lagi supaya terasa asin dan mengapungkan segala benda yang berberat jeanis kurang dari satu?
Kabar kabur penelitian karya FB yang melebihi jumlah halaman terbitan majalah sastra Horison tampaknya akan jadi pemicu kebenaran bawa kristal-kristal sastra cyber yang dulu diberi label sastra tong sampah ternyata telah memekar-memar-merahkan persada sastra Indonesia karena sejatinya sastra tong sampah itu utamanya berbahasa Indonesia.

Rabu, 12 Maret 2008

MASIH BERSAMA MUSIM KUMPULAN SAJAK IBNU WAHYUDI

Masih Bersama Musim kumpulan sajak Ibnu Wahyudi (2005): Sebuah Catatan!

Mengutip catatan di kulit buku belakang bahwa orang yang sebagian besar hidupnya tinggal di daerah tropis seperti di Indonesia, cenderung tidak terlalu peduli dengan perubahan musim. Itulah sebabnya dengan bahasa yang santun Wahyudi menuliskan pengalaman puitisnya karena bersentuhan dengan empat musim ketika bermukim seberapa waktu (seperti catatannya: begitu seseorang yang berasal dari atau yang akrab dengan dua musim itu tinggal atau menetap untuk waktu yang cukup lama di sebuah tempat yang mengenal musim sebanyak empat).Berhadapan dengan empat musim itu penyair lebih banyak menyapa musim yang paling beda dengan dua musim yang diakrabi, maka jangan heran jika kata salju (yang ada dalam bacaan doa iftitah “memohon dibasuh dosanya dengan tsalj – salju”) merupakan suasana musim yang paling menghenyak (dalam catatannya: semacam kesadaran yang seperti inilah sebagian besar sajak dalam kumpulan ini dibangun: masih dibelenggu musim / kita pun menghindar untuk tak lagi menyerapah / tentang basah atau sengatan cuaca / karena kita memang tak layak mencercanya). Dengan bahasa yang santun dan rapi sesuai kaidah bahasa Indonesia (selayaknya Wahyudi setia pada uger-uger bahasa Indonesia karena latar belakang pendidikan Susastra Indonesia!).
Sajak-sajaknya mengalir memahami musim, walaupun ada beberapa sajaknya yang menyempal dari tema musim, terutama yang berbicara pada pengalaman batin personal dan catatan perjalanan sepanjang menguntit jejak langkah empat maupun dua musim. Minimal kita terkejut dan ngungun mendapati aku lirik yang tertegun dalam sajak: aneh, bunga magnolia ini
berkuntum dulu, baru berdaun
Pengalaman batin ini hanya muncul ketika mengalami musim semi setelah membeku dalam musim dingin yang suram. Hanya di empat musim peristiwa puitis ini akan hinggap di mata batin penyair yang membayangkan referensi di dua musim.
Dari beberapa sajak yang setia pada kaidah tata bahasa ada juga beberapa yang tidak, atau mencoba menerapkan hak penyair yang paling diagungkan licentia puitika. Diantaranya kata ketiba-tibaan (halaman 7), menggerimis, melayu (halaman 8), merindu (judul sajak halaman 9), dan semerepotkan (halaman 16).

Penyusunan sajak
Disamping keberanian penyair memaksa kata sifat menjadi kata kerja, ada lagi yang lebih membuat labirin pemahaman perjalanan penyair ketika mengelompokkan sajak dalam tiga bagian. Pembagian ini tidak ditemukan adanya kesamaan tema, atau kronologis penciptaan sajak bersandar pada titi mangsa yang senatiasa ada di akhir sajak lengkap dengan lokasi atau kota kelahiran sajak. Kalau dikatakan sajak ini semacam gado-gado juga tidak, karena keterikatan jenis “sayur” yang sejenis berbicara tentang musim atau dalam arti sempit cuaca.
Dari penyusunan sajak yang beraneka tanpa pola ini akan lebih nyaman kalau sajak yang berbicara tentang salju misalnya diikat dalam satu sub-title Salju, kemudian yang berbicara tentang sketsa perjalanan dan yang mengambil roh haiku. Tetap dibagi tiga bagian dengan tema yang lebih mencolok. Paling tidak pakai catatan titi mangsa sebagai alasan pengikatan menjadi kelompok.
Ada yang menarik dari sajak yang bertema salju dengan titi mangsa berbeda. Tampak kesan setia tanpa perubahan dunia batin penyair dalam menyiasati bayangan batin tentang pemahaman dan pemaknaan peristiwa salju. Simak sajak-sajak berikut:

Salju Pertama
salju pertama tiba dari cakrawala
adakah membawa warta gembira?

ia menjelma dari duka, agaknya

telah lama kita pun cuma berjaga-jaga
berada di antara daun-daun yang pergi
dibawa angin, jatuh sendiri-sendiri

salju pertama hari itu jadi juga bertamu
dengan cahaya dan harapan bertemu

lalu, di manakah kamu?
jangan-jangan masih dalam termangu

atau tengah mengendarai bianglala itu?
Dongdaemun, 1977

MERINDU SALJU
salju pertama pagi-pagi itu,
sungguh-sungguh menyapaku
di muka pintu

aku tentu menyapanya juga
lalu bercengkerema dengannya

sesekali kami berfoto bersama
sembari menumpah rindu

sekian lama yang ada hanya jemu
menunggu dan membuatmu kelu

salju yang tadi bertamu itu
telah tersaji lama dalam kanvasku
tercatat rapi dalam buku harianku

sesekali saja menjelma rindu

: tapi kenapa dirimu buru-buru berlalu
selagi aku masih mau mencadaimu?
Seoul, 1988
RINDU SALJU
rindu yang menunggu
takkan berlalu sebelum bertemu denganmu
: barangkali pada setiap musimmu
akan selalu ada mimpi tentang kelembutanmu

rinduku padamu pun
sesendu salju seperti dalam ceritamu
yang kau bagi melalui alunan pantun
tentang dingin yang sering membuat beku

maka aku ruapkan langenku itu
dengan membelaimu
malu-malu
Imun-dong, April 1998

SALJU ITU
salju itu cuma melayang pelan
tidak seperti hujan ia ringan
dan menyenangkan

juga tidak setajam hujan

kita pun masih meneruskan percakapan
kita biarkan juga ia mewarnai rambut dan pakaian
kita tetap tenang, kadang malahan menating tangan

ia memang tak semerepotkan hujan

segera saja kami menjadi kawan
tapi jangan-jangan aku cuma dibuatnya mainan
Imun-dong, 1998


KUBIARKAN SAJU
kubiarkan salju
dingin pun tak lagi sampai
Seoul 1998

MEMBURU SAJU
memburu salju
aku malahan menemukan rindu

matahari mencari pelangi
aku kehilangan pagi
Taenung, 1998
MUKAKU MEMBEKU
mukaku membeku, kelu
angin dan salju menyiletiku
sembilu dan meliau

aku mimpikan rembulan
yang ketika malam
suka mengundangku
berjalan-jalan di pelimban
Seoul, 1998

DESAH SALJU
ketika salju mengisyaratkan dirinya
segera kusiapkan telinga
untuk mendengarkan desahnya
juga gairahnya
Seoul, 1998

RINDU
dari mana ketiba-tibaan itu
yang selalu mengirim tanda-tanda
tanpa melalui perubahan cuaca

dibaginya cahaya tak bernama
atau debu yang selalu setia
mengabarkan rindu

bukan itu,
bukan suara yang menjelma batu
atau masa lalu yang tercabik waktu

tapi salju
yang lalu menjadi lamu

k a m u
Taenung, 1999


YANG MEMBEKU
yang membeku di jalan itu
bias jadi yang semalam memburu-buru
terlepas dari sela-sela nafasku
menggelegar di antara salju
Seoul, 1999


AKU TANGKAP SALJU
aku tangkap salju
ia menjadi rindu
mencair di sela-sela buku jari
mencari-cari pelangi

aku singkap bajumu
dan kau pun tersipu
dalam dingin yang membeku

aku tentu terkesiap lugu
selaksa magma di balik gaunmu
menunggu waktu yang selalu keliru
dengan engah yang mengharu biru
Imun-dong, 1999

Selain sajak yang terma sama: s a l j u, ada juga sajak yang cengengesan dan memudarkan imaji kesantunan dan kerapian Wahyudi dalam menyiasati imaji. Bandingkan sajak berikut dengan tema musim dan salju yang arif dan sungguh-sungguh kental dengan pesan dan kesan yang membumi.

MUSIM DINGIN
baju
berlapis-lapis

selalu
mau pipis

tak ada habis-habisnya
Insa-dong, 1999

SEBUAH KATA
sebuah kata
mengadu
kepada kamusnya

:
aku baru saja
(“dan sudah sekian lama,”
bisiknya)

diperkosa
Depok, 2002

Tetapi kecentilan dan kekenesan itu akan terbayar dengan sajak yang betul-betul cerdas dalam mengkaitkan referensi bacaan dan pengalaman batin penyair yang terungkap pada sajak:

MALAM CHUSOK
bulan penuh
telanjang

dan uh,
aku teringat
Sitor Situmorang
Taenung, 1998

Sajak ini yang memberi nyawa pada bagian ke dua kumpulan sajak Masih Bersama Musim dengan pertemuan haiku pada sajak Bertemu Haiku (halaman 29). Kelincahan imaji Wahyudi terbukti pada sajak-sajak pendek asalkan tidak tergelincir pada daya ungkap puisi mbeling ketika Majalah Musik Aktuil masih ada dengan komandan 23761.
Sebagai catatan akhir perlu mencatat Ibnu Wahyudi yang di tahun tujuhpuluhan melantunkan musikalisasi puisi Sapardi ternyata meninggalkan catatan untuk tidak dipungkiri seperti Asep Samboja yang dengan tekad kuat meninggalkan catatan bangku kuliah dengan sajak inmemoriam yang bikin heboh di mailing list ketika sajak itu dirilis.
Boo, Des 2005

MENDENGAR EKA BUDIANTA

Namanya memang saya kenal sejak tahun tujupuluhan dengan buku kumpulan puisi BEL, REL, BANG BANG TUT dan yang terakhir saya membaca buku Eka Budianta mengenang 80 tahun Pram Mendengar Pramudya.
Seperti warna suara dan gagasannya pada catatan tentang percakapan dengan Pram, Eka tak pernah saya jumpai dalam tulisannya yang bernada polemik, semisal Emha, Linus ataupun Korrie bahkan tidak serumit tulisan Afrizal maupun selincah esai Putu Wijaya maupun Seno Gumira Ajidarma.
Seperti hal semua alumi Fakultas Sastra UI yang senantiasa memunculkan diri lewat tulisan berbentuk puisi kecuali Dami N. Toda dan Pamusuk, Eka Budianta juga muncul dengan puisi-puisinya yang tidak berciri khusus semisal Joko Pinurbo dan Afrizal Malna. Puisinya yang cenderung liris dan personal yang banyak saya baca dari Sapardi Djoko Damono, Linus Suryadi AG dan Goenawan Mohamad sangat sedikit yang mengundang untuk dicermati layaknya puisi Afrizal Malna dan Joko Pinurbo.
Seingat saya sosok pribadi Eka Budianta secara tatap muka belum pernah bertemu secara fisik baik dalam seminar, diskusi atau ngobrol santai semasa zaman Presiden Penyair Malioboro Umbu Landu Paranggi di Yogya apalagi dengan Presiden Penyair Indonesia yang belum diganti-ganti. Masa percakapan kreatif tatap muka tanpa basa-basi yang sekarang lebih banyak muncul di internet yang menyebabkan saya ketemu Iwan Soekri yang juga saya kenal jejaknya lewat media koran tahun tujuhpuluhan, Medy Loekito, Nanang Suryadi dan beberapa penulis yang sebelumnya tidak terdekteksi sejak tahun delapanpuluhan yang hanya mengandalkan Majalah Horison dan Basis sebagai barometer ukuran keberhasilan karya sastra Indonesia.
Eka Budianta yang berbicara di forum peluncuran buku Graffiti Gratitude yang merupakan kelahiran YMS yang merupakan gugusan kelompok sastra multimedia pun saya temui dalam makalah yang terbit di Cybersastra net. Saya tak sempat bersulang dan bersua dengannya.
Hanya lewat Mendengar Pramudya saya menyapanya seperti mendengar Eka Budianta yang tidak pernah memunculkan pertengkaran pemikiran sebagai layaknya aliran Rawamangun dan kelompok penulis di luar kampus yang lebih mempercayai kemampuan melihat karya sastra lewat intuisi yang dipilah Budi Darma sebagai kelompok kritik akademis dan kelompok non-akademis
Eka Budianta yang seantiasa meyapa sesamanya tanpa wacana perdebatan.
Saya bersulang dan demi kekreatifitasan mengangkat tabik semoga makin panjang perjalanan Eka Budianta yang telah melewati garis aman setengah abad menurut who wants to be a millionaire!

MENCARI SIHAR DALAM "LORCA MEMOAR PENJAHAT TAK DIKENAL"

Lorca judul novel Sihar yang mengundang imaji pada penyair yang telah dijiplak oleh Rendra dalam Balada Orang-orang Tercinta (baca Subagio Sastrawardoyo pada Sosok Pribadi dalam Sajak, 1980) satu-satunya referensi yang tercatat dalam bawah sadar penulis, seakan membayangkan sebuah pementasan drama yang absurd dan memusingkan, ternyata tidak! Novel itu berjalan lurus tanpa kilas balik kecuali diawali dan diakhiri dengan Pro dan Epi-log dengan menampilkan pembicaraan dua perempuan Roseti dan Maria yang karakterisasinya sudah jelas tertulis sebelumnya. Nyaris tak ada kejutan yang mengharu-biru bahkan adegan sex (yang diumbar vulgar oleh penulis wanita semacam Ayu Utami dan Jenar Mahesa Ayu) terasa pas dan berisi dalam novel Sihar.
Sihar yang pernah juga bermain teater sangat rapi menjaga perkembangan karakterisasi yang berjiwa dari tokoh utamanya Lorca. Kita tak akan menemui kesulitan seandainya disuruh membuat scenario film, pemaparan lokasi kepulauan dekat rumah nelayan dan kota yang kumuh ataupun keadaan pulau terpencil tempat pengembaraan tokoh utama begitu gamblang tercetak dalam layar seluloid angan. Tidak ceriwis dan neko-neko. Kemampuan puitis dan pemilihan kata tidak berbelit dan rumit. Tapi yaitu nyaris tanpa gejolak perasaan dalam membacanya karena sudah dihantarkan dengan deskripsi penokohan layaknya naskah drama. Simak pembukaan yang sudah filmis ini:
Bangunan tua pertengahan abad ke-19, di satu sudut kota. Pepohonan dengan bermacam jenisnya, berjejer di sisi jalan yang masih lengang. Pagi menghias permukaan bukit dengan pepohonan hijau sejauh mata memandang. Ada sungai kecil yang berkelok. Anak-anak terlihat berlari di padang rumputan. Tuhan maha pemurah, semua mahluk sudah layaknya bergembira …
Kemudian kamera akan dengan sum in close up pada detil-detil bangunan gereja kuno dan kemudian hinggap pada middle close dua perempuan yang berbicara. Tetapi akan lain jika novel ini digubah jadi naskah drama. Adegan pertama jelas akan menyorot sebuah ruang tamu gereja dengan dua perempuan sedang berbicara setelah lighting man mengarahkan spot light ke dua sosok pemain yang duduk berhadapan dengan mulai dialog:
Maria: Sekarang saatnya, Suster …
Roseti: [dengan senyum terpaksa] Engkau telah tahu tentang riwayat abangku itu.
Maria: Aku ingin mendengarnya. Sekali lagi …
Roseti: Untuk apa? Agar ceritaku ini bias kau kisahkan pada orang lain? Agar semua tahu tentang keluarga kami? Tidak!
Begitu jernih dan terang bagai langit setelah hujan reda cerita bergulir dan dengan cepat menuju bab terakhir saat Lorca mau ditembak mati yang ditutup dengan cerita model film western penghadangan orang Indian pada rombongan manusia Eropa yang mencari tanah baru. Tembak menembak, membunuh dan darah muncrat di seluruh layar film angan kita. Dahsyat (kata Romo Mudji Sutrisno) mengantar pembaca dengan lembut tentang persoalan hati manusia yang mencari Tuhan, mencari makna hidup dan terkungkung oleh batas-batas suku, agama … mengajak kita menjadi makin manusiawi. Belum lagi sederet nama dengan beragam profesi yang telah menjadi proof reader novel sebelum terbit sampai pembaca dari negerinya Bush yang dapat didapat melalui hubungan pertemanan di dunia maya alias mailing list maupun electronic mail [e-mail].Sihar seorang sarjana sastra dengan pekerjaan wartawan yang bertemu dengan berbagai ragam macam manusia yang mengometari novel perdananya [yang terbit tercetak dalam bentuk buku].
Dalam mencari Tuhan novel Sihar bukan yang pertama, teta[pi pengungkapan dunia kelam (kejahatan dalam sebuah keluarga yang terbentuk oleh sikap kecurangan dan kekejian) ini baru novel! Untuk sekedar perbandingan, novel Memburu Kalacakra Ani Sekarningsih juga memburu tuhan dengan perkawinan dengan berbagai latar belakang etnis (dan upacara Bali paling menonjol!), juga karya korrie Layun Rampan Upacara serta Linus Suryadi AG dalam Pengakuan Pariyem juga mempertanyakan tuhan dengan gaya etis masing masing (Dayak dan Jawa) Pertanyaannya adalah siapa ini Sihar yang Simatupang? Di daerah Batak yang berpulau dan bernelayan agak sukar dicari lokasinya kecuali di bagian barat Sumatra yang lebih dekat dengan daerah yang kena bencana tsunami setahun yang lalu. Sihar di mana kamu berdiri dalam novel Lorca?
Bogor hari Valentine 2006
Cunong N. Suraja