LAGU CINTA LARASATI
kepada Larasati dalam hidupku
senja pancarkan warna kesumba jatuh di dadaku bak purnama penuh
dada teduh bagi pejalan jauh tempat luruh segala rengkuh
ya, Larasati
aku menanti saat fajar dini hari
sapa ramah mentari
wahai, hari yang luruh
menebarkan cerita-cerita purba>mewangikan tubuhku
mempersiapkan pertemuan kekasih
yang kini sedang menuju
ya, Larasati yang sendiri
tanpa sanak tanpa kadang
selalu menanti tak henti-henti
sapaan mentari, sapaan lelaki
wahai, Arjuna yang tampan
kabarkan kedatangan tuan
bisa mati rindu ini menikam
saat ranjang pualam makin kusam
kemarin hari
siap kesturi menutup diri lela telanjang dada di depan cermin
meraba diri pribadi dalam dahaga puncak cipta-cinta senggama
ah, bungaku
bunga cinta di taman perdu
tidakkah kau baurkan wangimu
agar mampu menyeret sukma
hingga tiba yang diharap
ya, Larasati
belahan jiwa lelaki
dambaan pejalan yang lupa arah
penuntun singgah bagi yang lelah
walau gerah itu membakar, tetap saja menggenggam harap
agar pintu terbuka senantiasa
saat pagi mengusap tubuh di kali
aroma itu memakukan janji
hari ini pasti datang, hari ini kau kujelang
begitu purba waktu itu mengetuk-ngetuk
begitu langka satwa menyanyikan masmur
janji lelaki, Larasati, janji yang tak pernah mati
setiap saat akan terlepas, setiap saat akan terlupa
pada saatnya rengkuh pagut memaksa membunuh asap curiga yang kemarin
yang terbakar saat sesaji mematut diri
ya, Larasati
buah hati lelaki saat ranum fajar mematut diri, saat jumpa membakar sukma
lelaki, lelaki, kapan kau singgah
pada dermaga sepi kapal sandar?
pada tali temali rapuh?
saat matahari sepenggalah
lelaki itu datang, Larasati
dengan dada telanjang, tatap mata gelora samodra
langkah gegas siap kembara kemudian luruh menatap bunga taman
begitu sejuk taman ini. tangan siapa yang mengusapmu, bunga?
siapa yang mencurahkan kasihnya?
ah, Arjuna perjaka sepanjang masa begitu tega menyiksa sukma
pintu terbuka tak teraba, bunga liar disapa bak mawar
ah, lelaki yang dahaga
masih juga berpura-pura
ya Arjuna, di sini Larasati menanti
kapanpun selalu menyongsong, sudah siap air kesturi
pembasuh kaki yang berdebu, pendingin sukma yang bergelinjang
ya, Arjuna sayang
begitu tega berlama-lama menatap bunga yang mekar sesaat
luruh ketika senja
sedang Larasati menanti, mematut diri aroma kesturi
wahai, dinda Larasati
di mana pintu di mana lampu?
begitu samar kau mengundang kemudian hilang dalam kesuraman malam
ah, dasar lelaki masih juga sangsi
pintu ini tak terkunci senantiasa menanti, senantiasa berjanji>untuk tetap tak bunyi
ya, Larasati
perempuan cantik turunan gunung anak pertapa
di kaki gunung tergoda lelaki pemburu satwa pemburu bunga
ya, itulah janji
ketika tiba tak lagi di tawar, ketika malam mendekap sukma
begitu penuh jiwa tertumpah
ya, Larasati
aku jatuh hati pada lelaki yang memberi janji
saat tangan terpagut begitu gemetar jiwa bergolak
milik siapa ini tersisi, milik sendiri terlari
ah, malu diri menyeret duka
saat tubuh merengkuh dada purnama dihisap lelaki dahaga
begitu haus dari kembara dengan rakus melumat semua
dan diri tersiksa dalam cerita mimpi sepenggal tergeletak
tanpa daya tanpa tenaga
ya, Larasati
terlara dalam sepi lelaki mimpi bagai bayi setelah kembara memaku
tergolek lemas dalam puas diri
Arjuna, Arjuna yang kini terlena
matanya padam, dadanya telanjang
tanpa diam mata Larasati menyusur bibir menurun ke dagu
dipagut satu merayap ke hulu, menari lidah pada lembah indah
dalam rencana tamasya ke dua
belantara itu menyesatkan Larasati, jangan kau terus masuk ke dalam
belantara itu begitu lebat Larasati, jangan kau rambah bisa tersesat
jangan takut, kanda
aku bukan orang yang tiba, Larasati putra pertapa petualang rimba pemburu hari
apalah arti rimba belantara sedang satwa liarpun berhenti kembara
ah, lelaki yang sangsi, hutanmu akan kubakar, sukmamu akan kulumat
lihatlah api itu takpadam!
ah, gelora yang memancar
ayo, kanda tumpahkan di dada purnama
rebah, rebahlah di dada subur
rengkuh, rengkuhlah segala harap
jangan kau lepas gapai-sangsai saat meniti puncak cakrawala
saat menikam gelora telaga
ah, hutanmu lelaki begitu mempesona, begitu menyesatkan
dada siapa takgemuruh, tangan siapa takgetar
saat memburu satwa liar yang mencoba lindap
ya, Larasati
wanita cantik menyusuri lembah memagut cinta, terus berjalan tanpa ragu
terus merambah tanpa sudah: dia pasti akan janji itu milik hakiki
ya, Larasati
yang mengundang mimpi tangan lelaki itu merayap menggapai-sangsai
tanpa lupa menggetarkan jagat diri melahap dunia yang terbuka semua
mengunyah nasihat terlepas di mimbar:
dunia luka, dunia nestapa taklagi menjadi tanya
purnama penuh di dada Larasati menyeret alpa menawarkan dahaga
ya, Larasati dinda bestari
kapan janji terbukti sebagai lelaki, bukan lagi bayi yang selalu menari
tapi Arjuna kini datang mencari (di mana kau Larasati, aku tersesat lagi)
malam belum larut, cahya gemintang, angin laut, swara satwa dan serangga
menuju pusar malam pualam dalam mimpi perawan bulan berjalan ke barat
merenangi bola bumi menebarkan swara kasih menyusupi dedaunan dan buah ranum
aroma kesturi lelaki melela angan menghanyut bersama tembang asmaradahana
duh, kekasih
kapan tiba waktu bertandang bercengkrama, merenda malam mematut alam
serasa jam tak berdetak lurus rumputan dalam diam
wanginya malam purnama begitu menggoda sukma, menyusuri bebatuan jalan
menghitung bintang, menepis angin yang bermain memburai-burai anak rambut
ah, bintang senja yang lari begitu tega mencibir diri
menanti tanpa watas hingga dini hari tak terbagi
ah, mata nyalang sembab dalam tangis rindu tak terbalas, tak tertanda
burung-burung malam bertegur-tegur mendirikan bulu roma wartakan cerita
purba bagi cinta ke dua selalu di akhir nestapa lara, makian pedas perebut cinta penggoda terlaknat!
ah, dewa Kama
dewa jiwa kembara berbagi rasa, berbagi cerita
gapaian langsai, rengkuhan mesra hangat membara dalam dada
sesak nafas hari berlari memburu mimpi dini hari
fajar datang, kanda
ranjang itu seperti senja tanpa kusut masai rambut, tergerai kelam warna
tilam dingin bantal-guling menghunjamkan nyeri di hati
burung kita bernyanyi, kanda
meloncati rerantingan mematuk serangga, ulat kecil, bercerita tentang musim
pertanda hari esok
burung itu berpasangan, kanda
berlompatan saling memagut membagi ulat, membagi serangga, memburu hari
membangun sarang menyiapkan hari cericit paruh mungil bulatan telur kasih:
siap dieram siap didekam
matahari mengintip jendela kamar tepat pagutan kasih kian reda
telanjang dada menatap cakrawala, desah nafas pejalan kemalaman lentera
padam menjelang fajar aroma subuh dalam rengkuh memastikan kenihilan diri
matahari merayap makin murka dalam ayunan kecewa
mata rebah dalam palung menggelung diri dalam sangsi
tak ada harap-pesan menunggu hari berganti malam
saat matahari melewati cakrawala diri tergolek lara tanpa kawan
mau bicara tak ada lawan, kacapun enggan bertatap wajah kusut
menggores lapar di perut tak ada hasrat melangkah, mematut diri
di luar jendela hari berputar diri dalam diam alam
jiwa lapar dahaga tak terbaca menyusuri jalanan pegunungan
lewat angan limbung menunggu kabar burung
siang menjelang sore burung datang berceloteh tentang kota
ada arakan panjang menuju istana mengiring sepasang jaka-perawan
meniti pelaminan mengikrarkan hidup
ah, diri malang dalam paruh menunggu hari luruh, mengunci senja
dengan dendang tembang megatruh
warna kesumba melela cakrawala, langit mengaca di lautan telaga warna
begitu muda warna langit membiaskan rona di pipi, menunggu sentuhan kasih
berjalan meniti pematang meloncati selokan dan rumputan jalanan
ah, bunga apa lagi yang kaukirim saat diri resah menatap alam
menunggu pagut berdenyut, menunggu sapa teraba
burung-burung sore berkicau menutup hari, bercinta sepanjang hari dengan
angin menciumi mega, memeluk gunung dan berbaring di pasir sepanjang pantai sepi
burung-burung sore membawa aroma kasih leleh di sela jiwa kembara
tuan Arjuna, bukan?
raja jiwa dalam dahaga mengoyak dinding kesetiaan sabda
Arjuna, Arjuna!
menawarkan anggur cinta memabukkan, menyeret sukma kembara pemenuh buku harian perawan sunthi kehabisan kata, mengeja kesempurnaan diri didamba
senja tiba di hari kedua dalam temaram lampu, jiwa haus menatap nanar
jendela kabar terbuka menggoda serangga malam bernyanyi ria menyapa alam
makin pualam
melengkapi perjamuan siap dinanti
senja terus berjalan mengguratkan warna kelabu
pintu terbuka menanti warta sang Arjuna
merpati cinta telah dikirim tidakkah gentanya bergaung di istana,
mewartakan kedirian hamba sahaya meranggas menanti kunjungan?
sang Arjuna begitu tega menyiksa pinta dalam senja kian pualam
gemintang gemerlap memenuhi persada dengan cahya kudus, malam menuju puncak
saat birahi menanti mengajak berenang menuju mimpi hingga dini
mencari bunyi ketruk peronda, satwa malam, uir belalang dan tusukan embun pagi
menuju pualam puri tanpa lewat pecahan diri-kesturi ini
siap sejak pagi membasuh kaki membersihkan diri dari goda petaka serapah
ah, malam tempat tinggal jahanam jangan tiba saat lakiku merengkuh
menyusuri perbukitan malam menuju puncak pualam
jangan kau tebarkan hawa kianat saat bibir terpagut tangan bertaut
layang angan membawa kabut hingga tiba sang maut
Bogor, 1989-1994
Minggu, 20 Januari 2008
MEMBANDING TIGA SAJAK
MEMBANDING TIGA SAJAK SAPARDI DJOKO DAMONO YANG SEWAKTU
DENGAN TIGA SAJAKKU
Sapardi Djoko Damono (Duka Mu Abadi)
Cunong N. Suraja
SAAT SEBELUM BERANGKAT
PENGUBURAN
mengapa kita masih juga bercakap
hari hampir gelap
menyekap beribu kata di antara karangan bunga
di ruang semakin maya, dunia purnama
sampai tak ada yang sempat bertanya
mengapa musim tiba-tiba reda
kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring jenazah menanti
langit bersyal warna hitam meluruhkan bunga
menabur pada batu nisan hitam
dengan dasi hitam lekam (legam?)juru kunci menuntun
kuda berbulu hitam menguak semak dan membaringkan
tubuh kaku dan putih, pada rahim bumi
BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH
UPACARA TERAKHIR
berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
dengan lembut diletakkan untaian bunga melati
di pintu yang mungil yang menganga menyilakan
kaki ramping yang bagai tubuh leli
lembut sapa angin pagi yang atis
dan dengan sendu pepohonan menggoyang rerantingan
dan berguguran bunga berwarna pucat
serta tujuh helai daun terpelanting di atas bumi yang basah
SEHABIS MENGANTAR JENAZAH
PENGEJARAN
masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu? Hujan pun sudah selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap
di bawah bunga-bunga menua, musim yang senja
pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kembali bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya
masih adakah? Alanglah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
dalam kelelapan angan membius
dia tarik terali kuda hitam yang mencongklang
menembus kabut pagi yang pekat untuk menemukan
inti dari hidupnya yang cuma tersenyum dengan asri
Dalam proses selalu dimulai dengan menyerupai, menyamakan, terimbasi, menjiplak atau menanggapi sampai pada yang dikatakan pengikut setia yang buta dengan menggunakan kacamata kuda. (Sebuah proses selalu bermula dari meniru bukan menjiplak, karena dalam tiruan ada kemiripan bukan yang dikenal dengan istilah copy – paste yang tentunya akan menjadi sama persis atau pantulan cermin. Meniru masih dalam proses kreatif karena masih jauh dari kesamaan. Meniru telah dilakukan oleh anak Adam sejak pembunuhan pertama kali dengan peristiwa dua ekor burung yang saling berpatuk-patukan dan menyebabkan kematian yang satu dan kemudian yang lain menguburkannya.) Maka tidak mengherankan kalau kejadian sajak kembar dengan kualitas yang beda akan muncul bertebaran di sembarang terbitan puisi baik di media cetak dan elektronik maupun yang membeku dalam bentuk buku antologi.
Peristiwa itu juga terjadi pada sajakku yang terbit 1976 di koran Yogyakarta bernama Berita Nasional atau Bernas. Sajak itu muncul ketika terjadi upacara pemberangkatan jenazah di depan rumah. Para pelayat atau tamu berdiri di halaman rumah dibagikan gula-gula sedang pemimpin upacara mengucapkan kata terima kasih dan ucapan bela sungkawa. Cuaca mendung lewat jam sepuluh pagi. Banyak pelayat berbaju hitam. Payung dikembangkan memayungi keranda yang tertutup kain hijau dengan tulisan huruf Arab dengan warna keemasan. Tiga sajak Sapardi dalam buku Duka Mu Abadi yang disebut oleh Teuw dalam esainya sebagai sewaktu terbayang dengan jelas suasananya. Melarutnya suasana itu terus menempel hingga lahir tiga sajakku dalam satu hentakan mesin ketik walau kadar warna hitam cukup menguasai ketiganya. Suasana mendung, Harapan yang ditinggalkan si mati. Yang agak berbeda dengan Sapardi yang sesuai dengan judul buku kumpulan puisi: teramat muram. Sajakku masih menyisakan asa yang cerah dengan larik:
menembus kabut pagi yang pekat untuk menemukan
inti dari hidupnya yang cuma tersenyum dengan asri
Bandingkan dengan bait sajak Sapardi:
... Alanglah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
Tampak nyata pengaruh suasana dalam sajak Sapardi tidak sepenuhnya menguasai suasana sajakku. Kemudian simak tentang panjang bait sajakku cukup dengan satu sedang Sapardi memerlukan dua bait bahkan tiga pada sajak ketiga. tampak pengalaman batin Sapardi yang komplit sedang sajakku hanya menyentuh pemandangan kasat mata. Tidak menukik sampai pada kedalaman hidup yang tampak pada baris:
Waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring jenazah menanti (sajak 1)
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya (sajak 2)
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya (sajak 3)
Bandingkan dengan naifnya sajakku pada bait penguncinya:
langit bersyal warna hitam meluruhkan bunga
menabur pada batu nisan hitam (sajak 1)
di pintu yang mungil yang menganga menyilakan
kaki ramping yang bagai tubuh leli (sajak 2)
dalam kelelapan angan membius
dia tarik terali kuda hitam yang mencongklang (sajak 3)
Bagaimanapun juga kepekaan dan pengalaman batin membendakan kadar sajak penyair yang lebih dulu berkiprah dibandingkan dengan penyair yang mulai menulis dan banyak membaca sajak pendahulunya. Sajak Sapardi Djoko Damono dan Subagio Sastrowardoyo merupakan sajak yang bagus untuk dibaca penyair pemula yang sedang ranum-ranumnya untuk membuahkan percikkan bebungaan imajinya.
Semoga bermanfaat.
Bogor seusai hujan sore di hari paskah 2007.
Sapardi Djoko Damono (Duka Mu Abadi)
Cunong N. Suraja
SAAT SEBELUM BERANGKAT
PENGUBURAN
mengapa kita masih juga bercakap
hari hampir gelap
menyekap beribu kata di antara karangan bunga
di ruang semakin maya, dunia purnama
sampai tak ada yang sempat bertanya
mengapa musim tiba-tiba reda
kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring jenazah menanti
langit bersyal warna hitam meluruhkan bunga
menabur pada batu nisan hitam
dengan dasi hitam lekam (legam?)juru kunci menuntun
kuda berbulu hitam menguak semak dan membaringkan
tubuh kaku dan putih, pada rahim bumi
BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH
UPACARA TERAKHIR
berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
dengan lembut diletakkan untaian bunga melati
di pintu yang mungil yang menganga menyilakan
kaki ramping yang bagai tubuh leli
lembut sapa angin pagi yang atis
dan dengan sendu pepohonan menggoyang rerantingan
dan berguguran bunga berwarna pucat
serta tujuh helai daun terpelanting di atas bumi yang basah
SEHABIS MENGANTAR JENAZAH
PENGEJARAN
masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu? Hujan pun sudah selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap
di bawah bunga-bunga menua, musim yang senja
pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kembali bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya
masih adakah? Alanglah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
dalam kelelapan angan membius
dia tarik terali kuda hitam yang mencongklang
menembus kabut pagi yang pekat untuk menemukan
inti dari hidupnya yang cuma tersenyum dengan asri
Dalam proses selalu dimulai dengan menyerupai, menyamakan, terimbasi, menjiplak atau menanggapi sampai pada yang dikatakan pengikut setia yang buta dengan menggunakan kacamata kuda. (Sebuah proses selalu bermula dari meniru bukan menjiplak, karena dalam tiruan ada kemiripan bukan yang dikenal dengan istilah copy – paste yang tentunya akan menjadi sama persis atau pantulan cermin. Meniru masih dalam proses kreatif karena masih jauh dari kesamaan. Meniru telah dilakukan oleh anak Adam sejak pembunuhan pertama kali dengan peristiwa dua ekor burung yang saling berpatuk-patukan dan menyebabkan kematian yang satu dan kemudian yang lain menguburkannya.) Maka tidak mengherankan kalau kejadian sajak kembar dengan kualitas yang beda akan muncul bertebaran di sembarang terbitan puisi baik di media cetak dan elektronik maupun yang membeku dalam bentuk buku antologi.
Peristiwa itu juga terjadi pada sajakku yang terbit 1976 di koran Yogyakarta bernama Berita Nasional atau Bernas. Sajak itu muncul ketika terjadi upacara pemberangkatan jenazah di depan rumah. Para pelayat atau tamu berdiri di halaman rumah dibagikan gula-gula sedang pemimpin upacara mengucapkan kata terima kasih dan ucapan bela sungkawa. Cuaca mendung lewat jam sepuluh pagi. Banyak pelayat berbaju hitam. Payung dikembangkan memayungi keranda yang tertutup kain hijau dengan tulisan huruf Arab dengan warna keemasan. Tiga sajak Sapardi dalam buku Duka Mu Abadi yang disebut oleh Teuw dalam esainya sebagai sewaktu terbayang dengan jelas suasananya. Melarutnya suasana itu terus menempel hingga lahir tiga sajakku dalam satu hentakan mesin ketik walau kadar warna hitam cukup menguasai ketiganya. Suasana mendung, Harapan yang ditinggalkan si mati. Yang agak berbeda dengan Sapardi yang sesuai dengan judul buku kumpulan puisi: teramat muram. Sajakku masih menyisakan asa yang cerah dengan larik:
menembus kabut pagi yang pekat untuk menemukan
inti dari hidupnya yang cuma tersenyum dengan asri
Bandingkan dengan bait sajak Sapardi:
... Alanglah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
Tampak nyata pengaruh suasana dalam sajak Sapardi tidak sepenuhnya menguasai suasana sajakku. Kemudian simak tentang panjang bait sajakku cukup dengan satu sedang Sapardi memerlukan dua bait bahkan tiga pada sajak ketiga. tampak pengalaman batin Sapardi yang komplit sedang sajakku hanya menyentuh pemandangan kasat mata. Tidak menukik sampai pada kedalaman hidup yang tampak pada baris:
Waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring jenazah menanti (sajak 1)
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya (sajak 2)
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya (sajak 3)
Bandingkan dengan naifnya sajakku pada bait penguncinya:
langit bersyal warna hitam meluruhkan bunga
menabur pada batu nisan hitam (sajak 1)
di pintu yang mungil yang menganga menyilakan
kaki ramping yang bagai tubuh leli (sajak 2)
dalam kelelapan angan membius
dia tarik terali kuda hitam yang mencongklang (sajak 3)
Bagaimanapun juga kepekaan dan pengalaman batin membendakan kadar sajak penyair yang lebih dulu berkiprah dibandingkan dengan penyair yang mulai menulis dan banyak membaca sajak pendahulunya. Sajak Sapardi Djoko Damono dan Subagio Sastrowardoyo merupakan sajak yang bagus untuk dibaca penyair pemula yang sedang ranum-ranumnya untuk membuahkan percikkan bebungaan imajinya.
Semoga bermanfaat.
Bogor seusai hujan sore di hari paskah 2007.
APOLOGIA SENO
apologia seno अतस sastra harus berbicara ketika koran dibungkam
Membaca Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra harus Bicara edisi kedua buku Seno Gumira Ajidarma yang merupakan refleksi “kemarahan” ketika dicopot dari kedudukannya sebagai editor (… karena laporan tentang Insiden Dili dalam Jakarta Jakarta …perusahaan tempat saya bekerja menghentikan saya – dan dua kawan lain – dari tugas sebagai editor … hal. 40) atas fakta yang difiksikan maka kita harus siap menerima “kelicikan” Seno dalam berkreasi membentuk tulisan (sastra!) baik cerita pendek maupun novelnya yang menyulap fakta menjadi fiksi dengan kelincahan sebagai tukang atau pengrajin kata-kata dengan menggandalkan hasil wawancara nyata dengan “korban” kebijakasanaan rezim pemerintah yang tidak mau digoyang (sila simak pada halaman 146 – 147: … sebuah teks dari kategori jurnalistik, ternyata tidak harus berubah banyak ketika ditransfer ke format cerpen maupun novel.). Seno pun sampai pada kesimpulan bahwa “Itulah sebabnya saya tidak lagi mempersoalkan bagaimana caranya kesusastraan mampu menggenggam kebenaran, melainkan bagaimanakah caranya kesustraan itu berada, bagaimana caranya kesusastraan tertanggungjawabkan keberadaannya, yang bisa dirumuskan kembali sebagai: apa yang bisa dikatakan seorang penulis tentang teks yang ditulisnya sendiri, sebagai suatu pertanggungjawaban? (hal. 142-143). Jelas ini pengungkapan ulangan seperti juga pengakuan Seno sendiri bahwa dia sering-mengulang-ulang catatannya Insiden Dili dalam.tulisannya Fiksi, Jurnalisme, Sejarah: Sebuah Koreksi Diri dan juga tentang pemecatan di Tentang Empat Cerpen, Jakarta Jakarta dan Insiden Dili, Fiksi, Jurnalisme, Sejarah: Sebuah Koreksi Diri,dan “Timor Timur” dalam Kisah Pertukangan mengolah Fakta Menjadi Fiksi. Dedam itu begitu menggumpal selama dua tahun menjadi 12 cerita pendek dan satu novel. bahkan dalam suatu perbincangan di forum diskusi menovelkan film, Seno juga mengaku bahwa dia dipesan untuk menovelkan Biola tak Berdawai yang harus dikerjakan cepat dengan jumlah halaman tertentu, sehingga sebelum dia memenuhi jumlah halaman harus menyisipkan cerita sempalan tentang wayang, ataupun tentang ilmu jiwa sehingga novel itu pas sesuai dengan jumlah halaman yang dipesan dan dia sudah tidak lagi membaca ulang untuk menyunting. Pengalaman menukang cerita pesanan itu sudah dijalanani ketika bergabung dengan Putu Wijaya mengasuh almarhumah majalah Zaman.
Sebagai bahan bacaan enteng berisi seperti motonya almarhumah majalah Minggu Pagi di Yogyakarta, buku yang mirip buku saku dengan mudah dibawa-bawa dalam kantong jaket akan menjadikan buku ini rujukan bagi penulis cerita pendek maupun novel pemula. Sungguh bagus jika guru-guru bahasa Indonesia juga membacanya untuk melatih menyiasati membuat fiksi (syukur lagi kalau terbit di Koran atau majalah dan jadi buku, dapat untuk menambah panjang hidupnya tungku di dapur dalam bulan itu, yang kata Prof. Winarno Surachmat: gaji sebulan habis sehari dan mengajar di kandang ayam!) Jarang-jarang ada koki membuka rahasia dapur selugas Seno, biar itu Putu, Linus dan semua penulis yang pernah mengungkapkan cara menulis dalam bukunya Pamusuk Eneste Proses Kreatif, tetap tidak selugas dan setelanjang Seno yang sedang berkobar “dendam” atas fakta-fakta yang difiksikan atau sebaliknya di negeri yang tercinta dengan cap NKRI tanpa dapat ditawar itu. Nyatanya ……
Sebagai pembaca yang saat Dili jadi topik pembicaraan tidak pernah terlintas dalam mimpi untuk mencermati, maka buku ini sebagai pengantar menuju sikap abai pada peristiwa yang “mengerikan dan menjijikkan” dari sebuah bangsa yang berbudaya adi luhung: Pembunuhan manusia tanpa dosa sebagaimana tragedi 1965 maupun “penyembelihan atan pembantaian” nyawa dari peristiwa yang lain sepanjang sejarah bangsa ini. Terima kasih juga untuk cerita Seno yang berlatar belakang Mei 1998, karena satu-satunya pengarang yang dengan lugas seperti laporan pandangan mata seorang wartawan (atau Batman?) tentang sebuah kekejian, pembaca dengan mudah memamahi cerita yang kelabu itu dari cerita pendek “Clara” lain tidak!
Bogor Jan 06
Membaca Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra harus Bicara edisi kedua buku Seno Gumira Ajidarma yang merupakan refleksi “kemarahan” ketika dicopot dari kedudukannya sebagai editor (… karena laporan tentang Insiden Dili dalam Jakarta Jakarta …perusahaan tempat saya bekerja menghentikan saya – dan dua kawan lain – dari tugas sebagai editor … hal. 40) atas fakta yang difiksikan maka kita harus siap menerima “kelicikan” Seno dalam berkreasi membentuk tulisan (sastra!) baik cerita pendek maupun novelnya yang menyulap fakta menjadi fiksi dengan kelincahan sebagai tukang atau pengrajin kata-kata dengan menggandalkan hasil wawancara nyata dengan “korban” kebijakasanaan rezim pemerintah yang tidak mau digoyang (sila simak pada halaman 146 – 147: … sebuah teks dari kategori jurnalistik, ternyata tidak harus berubah banyak ketika ditransfer ke format cerpen maupun novel.). Seno pun sampai pada kesimpulan bahwa “Itulah sebabnya saya tidak lagi mempersoalkan bagaimana caranya kesusastraan mampu menggenggam kebenaran, melainkan bagaimanakah caranya kesustraan itu berada, bagaimana caranya kesusastraan tertanggungjawabkan keberadaannya, yang bisa dirumuskan kembali sebagai: apa yang bisa dikatakan seorang penulis tentang teks yang ditulisnya sendiri, sebagai suatu pertanggungjawaban? (hal. 142-143). Jelas ini pengungkapan ulangan seperti juga pengakuan Seno sendiri bahwa dia sering-mengulang-ulang catatannya Insiden Dili dalam.tulisannya Fiksi, Jurnalisme, Sejarah: Sebuah Koreksi Diri dan juga tentang pemecatan di Tentang Empat Cerpen, Jakarta Jakarta dan Insiden Dili, Fiksi, Jurnalisme, Sejarah: Sebuah Koreksi Diri,dan “Timor Timur” dalam Kisah Pertukangan mengolah Fakta Menjadi Fiksi. Dedam itu begitu menggumpal selama dua tahun menjadi 12 cerita pendek dan satu novel. bahkan dalam suatu perbincangan di forum diskusi menovelkan film, Seno juga mengaku bahwa dia dipesan untuk menovelkan Biola tak Berdawai yang harus dikerjakan cepat dengan jumlah halaman tertentu, sehingga sebelum dia memenuhi jumlah halaman harus menyisipkan cerita sempalan tentang wayang, ataupun tentang ilmu jiwa sehingga novel itu pas sesuai dengan jumlah halaman yang dipesan dan dia sudah tidak lagi membaca ulang untuk menyunting. Pengalaman menukang cerita pesanan itu sudah dijalanani ketika bergabung dengan Putu Wijaya mengasuh almarhumah majalah Zaman.
Sebagai bahan bacaan enteng berisi seperti motonya almarhumah majalah Minggu Pagi di Yogyakarta, buku yang mirip buku saku dengan mudah dibawa-bawa dalam kantong jaket akan menjadikan buku ini rujukan bagi penulis cerita pendek maupun novel pemula. Sungguh bagus jika guru-guru bahasa Indonesia juga membacanya untuk melatih menyiasati membuat fiksi (syukur lagi kalau terbit di Koran atau majalah dan jadi buku, dapat untuk menambah panjang hidupnya tungku di dapur dalam bulan itu, yang kata Prof. Winarno Surachmat: gaji sebulan habis sehari dan mengajar di kandang ayam!) Jarang-jarang ada koki membuka rahasia dapur selugas Seno, biar itu Putu, Linus dan semua penulis yang pernah mengungkapkan cara menulis dalam bukunya Pamusuk Eneste Proses Kreatif, tetap tidak selugas dan setelanjang Seno yang sedang berkobar “dendam” atas fakta-fakta yang difiksikan atau sebaliknya di negeri yang tercinta dengan cap NKRI tanpa dapat ditawar itu. Nyatanya ……
Sebagai pembaca yang saat Dili jadi topik pembicaraan tidak pernah terlintas dalam mimpi untuk mencermati, maka buku ini sebagai pengantar menuju sikap abai pada peristiwa yang “mengerikan dan menjijikkan” dari sebuah bangsa yang berbudaya adi luhung: Pembunuhan manusia tanpa dosa sebagaimana tragedi 1965 maupun “penyembelihan atan pembantaian” nyawa dari peristiwa yang lain sepanjang sejarah bangsa ini. Terima kasih juga untuk cerita Seno yang berlatar belakang Mei 1998, karena satu-satunya pengarang yang dengan lugas seperti laporan pandangan mata seorang wartawan (atau Batman?) tentang sebuah kekejian, pembaca dengan mudah memamahi cerita yang kelabu itu dari cerita pendek “Clara” lain tidak!
Bogor Jan 06
Jumat, 30 November 2007
WAWACARA DENGAN PENGEMBARA NEGERI SENJA
WAWACARA DENGAN PENGEMBARA NEGERI SENJA,
[SENO GUMIRA AJIDARMA (2003) Pemenang Kathulistiwa Award 2004 jenis fiksi]
Membaca roman Seno Negeri Senja (2003) anda akan menjumpai seorang pengembara yang selalu bersedih dan memburu senja seperti tokoh tua di dalam novel Hemingway The Old Man and the Sea yang memburu ikan ditengah lautan, sedang tokoh Seno memburu senja di lautan pasir atau padang pasir (kebetulan ada sedikit celah info lokasi tentang kenangan Timbuktu, kota di tepi Gurun Sahara.)
Tokoh pengembara ini belum terlalu tua dan tidak muda lagi, tak setua pelaut Hemingway. Tetapi pengembara Seno punya masa lalu yang selalu menguntitnya lewat nama perempuan Alina dan Maneka yang dapat dilihat pada Bab 24 “Antara Alina dan Maneka”. Pengembara itu selalu berjalan, bergerak dan tidak pernah kembali ketempat semula: “Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju suatu tempat entah di mana, namun … sampai sekarang belum pernah kembali.” (halaman 3) Dan di ujung kisah pengembara itu terus berjalan tanpa takut tersesat walau tanpa kompas dan peta:”… Aku melanjutkan perjalanan menembus badai pasir yang masih juga bertiup dengan sangat kencang. Aku tidak membawa kompas dan peta karena aku memang tidak pernah peduli perjalananku akan sampai ke mana. … Aku berjalan dan terus berjalan …” (halaman 229).
Kebetulan saat itu tokoh pengembara setelah menembus badai pasir rehat disebuah warung makan-minum. Dengan bahasa antar bangsa saya sapa dan dengan pertanyaan-pertanyaan standard.
Pewawancara: Hai pengembara! Saya seorang wartawan bebas ingin berbincang sejenak dengan anda sambil menghirup wangi masakan dan mengunyah kudapan. Bersediakah?
Pengembara : Apalah aku ini, sahib? (jawabnya terbata dengan bahasa antar bangsa yang kagok). Aku ini seorang pengembara, cuma seorang musafir lata yang tiada bersanak dan tiada berkawan, pergi dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa tujuan – sia-sia mencoba menghilangkan kesedihan.
Pewawancara: Boleh tahu nama?
Pengembara : Sebut saja pengembara tanpa nama, kalau pendekar silat Bu Beng Cu. Pelaut tua Hemingway itu punya nama dan julukan ya? Maksudnya seperti itu? Salao orang yang sial[1] dan bernama Santiago. Saya tidak punya sebutan dan lupakan nama itu. Anda ingin bertanya tentang pengembaranku, bukan? Ada negeri yang selalu senja tak pernah bergeming dari kemuraman dan ditengah badai gurun serta penduduknya yang selalu berselubung. Beralasan memang karena debunya itu: wuih!
Pewawancara: Jadi anda pernah singgah di Negeri Senja dan menarik untuk dibicarakan. Sebagai petualang , tentunya dapat disamakan dengan pengalaman tokoh orang tua pada novel Putu Wijaya Stasiun yang juga memenangkan sayembara mengarang roman DKJ 1975 sebelum diterbitkan, orang tua yang siap berangkat naik kereta api dan berbicara tentang problemmatika perkeretaapian Indonesia yang sering terlambat, penumpang naik kereta salah jurusan, pelayanan penjualan karcis, perawatan peturasan atau kamar kecil dan perawatan stasiun dalam penerangan maupun kebersihan. Tokoh orang tua dalam Stasiun adalah lelaki yang berumur.
Pengembara : Aku hanya akan membuktikan cerita pedagang adanya Negeri Senja: Begitulah, suatu ketika dalam perjalananku tibalah aku di Negeri Senja, yang seperti tiba-tiba saja muncul di hadapanku setelah menyeberangi sebuah gurun selama dua minggu. Dari jauh Negeri Senja cuma bayangan hitam tembok-tembok beku perbentengan yang tua.
Pewawancara: Jadi negeri itu tiba-tiba jatuh di hadapan anda karena anda tak berkompas dan berpeta.
Pengembara : Begitulah! Sebelum aku masuk wilayah aku telah dicegat serombongan penduduk dengan sapaan yang ramah dengan penuh harapan. Ternyata mereka menunggu penunggang kuda dari selatan. Padahal saat itu aku naik onta dan dari arah timur. Betapa bodohnya manusia jika menunggu harapan sang penyelamat, sudah kehilangan arah dan kurang wawasan. Layaknya mereka manusia dalam drama Menunggu Godot. Mereka terus menunggu dan menunggu di balik gundukan pasir hasil kerja temporer badai gurun. Sebuah sambutan yang menimbulkan misteri. negeri macam apa Negeri Senja ini. Negeri tanpa harapan? Negeri yang muram tanpa masa depan? Atau negeri yang sedang kacau?
Pewawancara: Bagaimana pemandangan atau katakanlah situasi dan kondisi Negara itu dari jauh?
Pengembara : (merenung, mengusap janggutnya, geleng-geleng kepala) Aku bukan seorang penulis, namun ketika aku ingin bercerita kepadamu tentang Negeri Senja, aku terpengaruh …
Pewawancara: (memotong karena menunggu lama Pengembara mencari kata yang tepat) cerita Mochtar Lubis Twilight in Jakarta?
Pengembara : (tak acuh meludah di lantai) Kesalahan seorang penulis adalah memandang dunia ini sebagai suatu cerita. (jeda sejenak menyruput minuman dan menggigit kudapan, mengunyah perlahan, mencari-cari rokok dan korek pemantiknya) Padahal Negeri Senja bukanlah suatu cerita, Negeri Senja adalah suatu dunia, cara bercerita macam apapun akan sulit mewakilinya.
Pewawancara: (meminta juru kamera mengambil beberapa jepretan wajah pengembara) Adakah anda membuat catatan harian atau jurnal perjalanan misalnya?
Pengembara : (menemukan rokok dan pemantiknya, memasang rokok dan membakar ujungnya dengan pemantik, menyedot dalam-dalam kemudian dengan puas menghebuskan asap ke langit-langit rumah makan minum) Memandang dunia sebagai suatu cerita, artinya aku dapat menceritakan segala-galanya, padahal aku ingin menceritakan semuanya. Terlalu banyak hal juga belum terlalu jelas bagiku, dan aku tidak mempunyai kesempatan melakukan penyelidikan sedalam-dalamnya …
Pewawancara: Jadi anda sudah mempersiapkan laporan atau draft cerita atau scenario?
Pengembara : Aku tidak pernah tahu Negeri Senja itudengan pasti, baik lokasi, sejarah masa lalunya yang telah dibakar oleh Ratu Tirana yang cantik tetapi buta. Yang katanya waktu mudanya adalah seorang gadis yang pandai dan sialnya diperkosa oleh pasukan preman di Negeri Senja yang dikenal dengan Komplotan Pisau Belati. Memang seperti cerita saja!
Pewawancara: Bagaimana dibandingkan dengan negeri di timur jauh di antara dua samodra dan benua besar yang dikenal dengan nama Nusantara?
Pengembara : Oh, negeri itu! Negeri yang penuh bencana kemanusiaan. Negeri yang mirip dengan Negeri Senja, menculik anak bangsanya yang kreatif dan berani, membunuhnya dan menghilangkan jejaknya. Negeri yang semuram Negeri Senja. Kehilangan kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar karena jatuh pailit dililit hutang.
Pewawancara : Anda sedang membuat refleksi politik dengan pengembaraan anda karena rasa sakit dan kecewa serta kesedihan yang berlarut-larut? Sampai ujung mana anda akan selesai?
Pengembara : Dalam perjalanan seorang pengembara bercerita bahwa tidak ada apa-apa di Negeri Senja selain kemiskinan, kejahatan, dan penindasan. Matahari tak pernah terbenam tersangkut di cakrawala. Pengembara itu meyakinkanku bahwa Negeri Senja itu ada bukan khayalan fatamorgana di gurun.
Pewawancara: Jadi Negeri Senja itu antara ada dan tiada. Apakah anda akan kirim pesan pada Alina atau Meneka?
Pengembara : (menguap dan melempar puntung rokok dengan ceroboh ke lantai setelah membunuh bara dengan menggoceknya di papan bawah kursinya) Sampai jumpa dan tulis di surat kabar anda salam kangen saya pada Alina dan Maneka. Pada pembaca jika ingin membuktikan lokasi Negeri Senja harus dengan melakukan pengembaraan di gurun, ketemu pengembara lain dan pedagang garam. Kalau kebetulan ketemu aku, dengan senang hati aku menjadi pemandu, dengan catatan Negeri Senja telah porak poranda seperi Irak yang di bom Bush demikian juga pegunungan Afghanistan yang porak poranda karena ulah kebijakan Bush presiden Amerika Serikat yang sangat rasis itu! Presiden yang berhati robot seperti Anakin di Star Wars yang buta mata buta hati, karena memang sudah jadi pasukan robot. Robot yang mau menelan anak kandungnya sendiri!
Pewawancara: Selamat istirahat, sampai jumpa nanti.
Senja jatuh dan malam menurunkan gelapnya. Pengembara itu menguap dan mohon diri untuk istirahat di kamar penginapan yang tersedia di rumah makan minum itu, sambil berjanji akan ketemu esok hari sebelum meneruskan perjalanan.
Boo, Des 05
[1] the old man was now definitely and finally salao, which is the worst form of unlucky, …
[SENO GUMIRA AJIDARMA (2003) Pemenang Kathulistiwa Award 2004 jenis fiksi]
Membaca roman Seno Negeri Senja (2003) anda akan menjumpai seorang pengembara yang selalu bersedih dan memburu senja seperti tokoh tua di dalam novel Hemingway The Old Man and the Sea yang memburu ikan ditengah lautan, sedang tokoh Seno memburu senja di lautan pasir atau padang pasir (kebetulan ada sedikit celah info lokasi tentang kenangan Timbuktu, kota di tepi Gurun Sahara.)
Tokoh pengembara ini belum terlalu tua dan tidak muda lagi, tak setua pelaut Hemingway. Tetapi pengembara Seno punya masa lalu yang selalu menguntitnya lewat nama perempuan Alina dan Maneka yang dapat dilihat pada Bab 24 “Antara Alina dan Maneka”. Pengembara itu selalu berjalan, bergerak dan tidak pernah kembali ketempat semula: “Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju suatu tempat entah di mana, namun … sampai sekarang belum pernah kembali.” (halaman 3) Dan di ujung kisah pengembara itu terus berjalan tanpa takut tersesat walau tanpa kompas dan peta:”… Aku melanjutkan perjalanan menembus badai pasir yang masih juga bertiup dengan sangat kencang. Aku tidak membawa kompas dan peta karena aku memang tidak pernah peduli perjalananku akan sampai ke mana. … Aku berjalan dan terus berjalan …” (halaman 229).
Kebetulan saat itu tokoh pengembara setelah menembus badai pasir rehat disebuah warung makan-minum. Dengan bahasa antar bangsa saya sapa dan dengan pertanyaan-pertanyaan standard.
Pewawancara: Hai pengembara! Saya seorang wartawan bebas ingin berbincang sejenak dengan anda sambil menghirup wangi masakan dan mengunyah kudapan. Bersediakah?
Pengembara : Apalah aku ini, sahib? (jawabnya terbata dengan bahasa antar bangsa yang kagok). Aku ini seorang pengembara, cuma seorang musafir lata yang tiada bersanak dan tiada berkawan, pergi dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa tujuan – sia-sia mencoba menghilangkan kesedihan.
Pewawancara: Boleh tahu nama?
Pengembara : Sebut saja pengembara tanpa nama, kalau pendekar silat Bu Beng Cu. Pelaut tua Hemingway itu punya nama dan julukan ya? Maksudnya seperti itu? Salao orang yang sial[1] dan bernama Santiago. Saya tidak punya sebutan dan lupakan nama itu. Anda ingin bertanya tentang pengembaranku, bukan? Ada negeri yang selalu senja tak pernah bergeming dari kemuraman dan ditengah badai gurun serta penduduknya yang selalu berselubung. Beralasan memang karena debunya itu: wuih!
Pewawancara: Jadi anda pernah singgah di Negeri Senja dan menarik untuk dibicarakan. Sebagai petualang , tentunya dapat disamakan dengan pengalaman tokoh orang tua pada novel Putu Wijaya Stasiun yang juga memenangkan sayembara mengarang roman DKJ 1975 sebelum diterbitkan, orang tua yang siap berangkat naik kereta api dan berbicara tentang problemmatika perkeretaapian Indonesia yang sering terlambat, penumpang naik kereta salah jurusan, pelayanan penjualan karcis, perawatan peturasan atau kamar kecil dan perawatan stasiun dalam penerangan maupun kebersihan. Tokoh orang tua dalam Stasiun adalah lelaki yang berumur.
Pengembara : Aku hanya akan membuktikan cerita pedagang adanya Negeri Senja: Begitulah, suatu ketika dalam perjalananku tibalah aku di Negeri Senja, yang seperti tiba-tiba saja muncul di hadapanku setelah menyeberangi sebuah gurun selama dua minggu. Dari jauh Negeri Senja cuma bayangan hitam tembok-tembok beku perbentengan yang tua.
Pewawancara: Jadi negeri itu tiba-tiba jatuh di hadapan anda karena anda tak berkompas dan berpeta.
Pengembara : Begitulah! Sebelum aku masuk wilayah aku telah dicegat serombongan penduduk dengan sapaan yang ramah dengan penuh harapan. Ternyata mereka menunggu penunggang kuda dari selatan. Padahal saat itu aku naik onta dan dari arah timur. Betapa bodohnya manusia jika menunggu harapan sang penyelamat, sudah kehilangan arah dan kurang wawasan. Layaknya mereka manusia dalam drama Menunggu Godot. Mereka terus menunggu dan menunggu di balik gundukan pasir hasil kerja temporer badai gurun. Sebuah sambutan yang menimbulkan misteri. negeri macam apa Negeri Senja ini. Negeri tanpa harapan? Negeri yang muram tanpa masa depan? Atau negeri yang sedang kacau?
Pewawancara: Bagaimana pemandangan atau katakanlah situasi dan kondisi Negara itu dari jauh?
Pengembara : (merenung, mengusap janggutnya, geleng-geleng kepala) Aku bukan seorang penulis, namun ketika aku ingin bercerita kepadamu tentang Negeri Senja, aku terpengaruh …
Pewawancara: (memotong karena menunggu lama Pengembara mencari kata yang tepat) cerita Mochtar Lubis Twilight in Jakarta?
Pengembara : (tak acuh meludah di lantai) Kesalahan seorang penulis adalah memandang dunia ini sebagai suatu cerita. (jeda sejenak menyruput minuman dan menggigit kudapan, mengunyah perlahan, mencari-cari rokok dan korek pemantiknya) Padahal Negeri Senja bukanlah suatu cerita, Negeri Senja adalah suatu dunia, cara bercerita macam apapun akan sulit mewakilinya.
Pewawancara: (meminta juru kamera mengambil beberapa jepretan wajah pengembara) Adakah anda membuat catatan harian atau jurnal perjalanan misalnya?
Pengembara : (menemukan rokok dan pemantiknya, memasang rokok dan membakar ujungnya dengan pemantik, menyedot dalam-dalam kemudian dengan puas menghebuskan asap ke langit-langit rumah makan minum) Memandang dunia sebagai suatu cerita, artinya aku dapat menceritakan segala-galanya, padahal aku ingin menceritakan semuanya. Terlalu banyak hal juga belum terlalu jelas bagiku, dan aku tidak mempunyai kesempatan melakukan penyelidikan sedalam-dalamnya …
Pewawancara: Jadi anda sudah mempersiapkan laporan atau draft cerita atau scenario?
Pengembara : Aku tidak pernah tahu Negeri Senja itudengan pasti, baik lokasi, sejarah masa lalunya yang telah dibakar oleh Ratu Tirana yang cantik tetapi buta. Yang katanya waktu mudanya adalah seorang gadis yang pandai dan sialnya diperkosa oleh pasukan preman di Negeri Senja yang dikenal dengan Komplotan Pisau Belati. Memang seperti cerita saja!
Pewawancara: Bagaimana dibandingkan dengan negeri di timur jauh di antara dua samodra dan benua besar yang dikenal dengan nama Nusantara?
Pengembara : Oh, negeri itu! Negeri yang penuh bencana kemanusiaan. Negeri yang mirip dengan Negeri Senja, menculik anak bangsanya yang kreatif dan berani, membunuhnya dan menghilangkan jejaknya. Negeri yang semuram Negeri Senja. Kehilangan kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar karena jatuh pailit dililit hutang.
Pewawancara : Anda sedang membuat refleksi politik dengan pengembaraan anda karena rasa sakit dan kecewa serta kesedihan yang berlarut-larut? Sampai ujung mana anda akan selesai?
Pengembara : Dalam perjalanan seorang pengembara bercerita bahwa tidak ada apa-apa di Negeri Senja selain kemiskinan, kejahatan, dan penindasan. Matahari tak pernah terbenam tersangkut di cakrawala. Pengembara itu meyakinkanku bahwa Negeri Senja itu ada bukan khayalan fatamorgana di gurun.
Pewawancara: Jadi Negeri Senja itu antara ada dan tiada. Apakah anda akan kirim pesan pada Alina atau Meneka?
Pengembara : (menguap dan melempar puntung rokok dengan ceroboh ke lantai setelah membunuh bara dengan menggoceknya di papan bawah kursinya) Sampai jumpa dan tulis di surat kabar anda salam kangen saya pada Alina dan Maneka. Pada pembaca jika ingin membuktikan lokasi Negeri Senja harus dengan melakukan pengembaraan di gurun, ketemu pengembara lain dan pedagang garam. Kalau kebetulan ketemu aku, dengan senang hati aku menjadi pemandu, dengan catatan Negeri Senja telah porak poranda seperi Irak yang di bom Bush demikian juga pegunungan Afghanistan yang porak poranda karena ulah kebijakan Bush presiden Amerika Serikat yang sangat rasis itu! Presiden yang berhati robot seperti Anakin di Star Wars yang buta mata buta hati, karena memang sudah jadi pasukan robot. Robot yang mau menelan anak kandungnya sendiri!
Pewawancara: Selamat istirahat, sampai jumpa nanti.
Senja jatuh dan malam menurunkan gelapnya. Pengembara itu menguap dan mohon diri untuk istirahat di kamar penginapan yang tersedia di rumah makan minum itu, sambil berjanji akan ketemu esok hari sebelum meneruskan perjalanan.
Boo, Des 05
[1] the old man was now definitely and finally salao, which is the worst form of unlucky, …
Jumat, 23 November 2007
ANOMALI
ANOMALI DALAM KUMPULAN CERITA PENDEK ADAM MA’RIFAT DANARTO
Anomali merupakan istilah dalam ilmu alam atau fisika tentang prilaku air pada titik nol derajat Celsius membeku menjadi batu padat dan kembali menjadi benda cair manakala titik beku itu telah melewati angka minus empat derajat Celcius. Meminjam istilah ilmu alam ini seperti juga Subagio Sastrowardoyo dalam membicarakan persajakan yang mengulang gaya pengungkapan maupun bentuk dengan istilah biologi: atavisme. Pada cerita-pendek (cerpen) Danarto yang terkumpul dalam Godlob, Berhala maupun Adam Ma’rifat (1982) nampak anomali dalam arti penyimpangan prilaku sebuah cerpen yang tidak seperti cerpen yang biasa ditemukan pada lembar koran minggu pagi maupun majalah hiburan yang terbit mingguan, dua mingguan maupun bulanan dan berkala (kala tengah tahunan maupun tahunan) yang dalam istilah seorang pakar cerpen dikatakan bacaan yang terselesaikan dibaca dalam sekali duduk untuk tidak mengatakan cerpen sebuah karya selingan sambil menunggu kereta, pesawat, bis atau angkutan datang, giliran membayar pajak atau utang bank maupun ketika di ruang tunggu pasien sebelum dipanggil.
Dari enam cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen Danarto: Adam Ma’rifat dengan gamblang akan terlihat ketidaklaziman dari sebuah judul cerpen yang merupakan partitur yang digunakan dalam membaca nada sebuah pagelaran musik dengan beberapa huruf ngung dan cak serta titik-titik yang terserak di antara baris bar nada partitur. Cerpen ini juga memulai dengan sebuah gambar (di halaman 38) yang terfokus pada bentuk busi yang menyunting sekuntum bunga (seperti mawar dan mirip dahlia ataupun aster – hairbrush – besar kemungkinan kembang sepatu!) diikuti deretan kata ngung (36 kali diselingi dengan “ng” kemudian enam “ngung berlanjut dengan NGUNG tujuh kali seakan sebuah pola alat bunyi yang ditabuh) diselang-seling dengan garis nada partitur musik tap hanya ada deretan angka maupun titik-titik yang berserak. Pada halaman berikutnya (kalau kita tidak bicara paragraf layaknya sebuah susunan kalimat menjadi paragraf) kata cak yang membentuk topografi segi tiga bersambungan dengan bentuk belah ketupat kemudian berubah kata ngung dihubungkan dengan titik-titik berpola topografi belah ketupat ditambah dengan deretan kata klst membentuk segitiga dan dibuntuti kata cak semacam ekor layang-layang diselingi kata
kur
cak
sebagai
musik
penyatu
sebuah
tarian
sakral
Danghyang
Jaran[1] (halaman 43)
Baru muncul sebuah alinea yang menerangkan sebuah alat yang tergambar (di halaman 44 yang dinamai pesawat pengurai (SMPVTU). Sampai pada batas ini terbayang sebuah sajak panjang dengan topografi dan kata yang berwujud “senggakan” – interjection yang dikenalkan 23761 dengan sebut puisi mbeling atau lugu(lalu apakah ini juga dapat disebut sebagai Cerita Pendek mbeling?).Cerita ini ditutup dengan topografi kalat cak yang melingkar, walaupun dalam alinea dan percakapan sebelumnya tersirat uraian dan ungkapan sebuah cerita upacara di sebuah pulau (Bali?) yang peserta upacara terhipnotis atau terhisap trance mengeliling alat pesawat pengurai: SMPVTU! Jadi ini bukan puisi!
Anomali yang lain selain cerita pendek yang dapat dikenal dengan kaidah pokok sebuah cerita dengan pembagian alinea maupun pemaparan cerita yang runut adalah adanya pengulangan alinea pada cerita “Bedoyo Robot Membelot”, tiga alinea awal ditulis sama, kemudian diikuti dengan kalimat pertama yang tak lengkap pada alinea ke empat. Cerita tentang guru tari yang sudah berusia 87 tahun ini berakhir pada penari bedoyo asuhannya yang masih gadis di bawah tujuh belas tahun mengilang dibawa kabut asap yang muncul dari dupa wangi cendana. Tarian itu juga menampilkan gerakan baru dengan tabuhan gamelan yang tiba-tiba semua penabuhnya tertidur. Cerita ini dikunci dengan pengingkaran Danarto bahwa semuanya terjadi biasa-biasa saja seperti zaman order baru membunuh dan orang hilang dianggap sebagai peristiwa normal dengan senyum simpul orang hilang dianggap hajatan minum kopi pagi hari dan tampak pada alinea terakhir:
“Ibu-bapak dan saudara-saudara yang hadir malam itu dalam kondisi yang sebagus-bagusnya. Mereka yakin bahwa dalam undangan pesta perkawinan itu tak pernah ada dicantumlah acara tarian.” (halaman 71)
Anomali cerita yang lain nampak pada cerita pendek yang digunakan sebagai judul buku: Adam Ma’rifat. Cerita ini hanya terdiri satu paragraf atau alinea. membaca cerita atau dongeng Danarto tentang Adam Ma’rifat nafas kita dikuras habis hingga pada titik ujung cerita diseling dengan satu barisan kata “tanah” sejumlah 43 baris yang terdiri dari kata 10 “tanah” setiap baris. Cerita pun berloncatan seakan kita menyeberangi sungai berbatu, jika kita kurang siaga akan terpeleset tergelincir masuk air yang deras. Seperti teroris yang meledakkan bom di sebuah terminal kereta api yang sibuk ujung cerita itu meledakkan nafas pembacanya dengan ”... Adam Ma’rifat, genangan selokan, kursi pemerintahan bahtera melaju terus, bank-bank meledak siapa kekasih Tuhan, yang cemara tak berderai, yang tupai tak lompat, Adam Ma’rifat, gendut karung di gudang, gendut di meja-meja, gendut tak bisa lompat bahtera melaju terus, hotel-hotel meledak, pabrik-pabrik meledak, kantor-kantor meledak tempat-tempat hiburan meledak, desa-desa meledak.” (halaman 27)
Membaca dongeng Danarto bukannya terhibur tapi mengernyitkan dahi untuk membuat sebuah pertanyaan yang beruntun. Cerita apa ini? Legenda? Mitos? Laporan pandangan mata? Apa ini sebuah tesis tentang Jangka Jayabaya yang masyhur dengan zaman edan? Dan memang beberapa tahun setelah Danarto usai menuliskan dan mencetak dongeng ini tanah air Indonesia dan dunia terguncang tingkah teroris yang dengan santai meledakkan bom demi bom dengan peristiwa yang paling spektakuler pada tanggal 9 September 2001 penabrakan dua pesawat komersial pada dua gedung pencakar langit yang bernama pusat perdagangan dunia yang kemudian runtuh rata dengan tanah sebagai mana 10 kata tanah Danarto.
Dalam membaca dongeng (cerita pendek) Danarto tidak hanya mengandalkan pemahaman struktur bahasa, maupun aliran pikiran normal, karena kadang-kadang (untuk menghindarkan kata selalu dan sering!) Danarto menumpuk sebuah percakapan pada bagian dari cerita pendek itu yang kadang tidak nyambung (itulah si Joko Sembung bawa golok!) mengingatkan dialog (percakapan) naskah drama Putu Wijaya yang menjadi langgan pemenang penulis lakon sayembara yang dilaksanakan oleh Dewan kesenian Jakarta tahun tujuh puluhan di antaranya “Aduh”, “Dag Dig Dug” dan naskah lakon yang dipentaskan semacam “Lho”, “Zat” dan “Aum” untuk menyebutkan beberapa judul.
Jangan dikira kita tidak mendapatkan apa-apa dari dongeng Danarto, karena ada beberapa yang bisa membaca peristiwa masa depan seperti teror bom Bali dengan judul “cak ngung ngung “ di gambarkan sebagai partitur musik. Danarto bernyanyi tentang anomali tingkah manusia yang cinta damai menjadi cinta kebutralan dan pembunuhan masal karena titik jenuh demokrasi yang bermartabat telah dilampaui dengan letikan peristiwa 11 September 2001 yang ditindak-lanjuti oleh Bush dengan menyerbu Afghanistan dan Iran secara bara-bara dan membabibuta dan benar-benar buta nurani karena nafsu balas dendam yang dilandasi dengan pemraktek demokrasi ala koboi Texas yang menganggap manusia hanyalah ternak berakal. Benar-benar titik kritis pembekuan nurani mulai mencair mengikuti ulah air saat titik beku melampau minus empat derajat Celsius. Danarto yang pelukis Jawa telah melampau titik anomali kreatifnya sehingga batas beku dan cair jadi membias dalam sebuah campuran (blend and mix) yang padu antara alur cerita paragrafis dan alur cerita grafis dan filmis. Benar-benar anomali!
Dari kumpulan Adam Ma’rifat hanya menyisakan cerita pembuka dengan judul Mereka toh tidak mungkin Menjaring Malaikat, Megatruh, dan Lahirnya sebuah Kota Suci yang secara wujud menunjukkan dongeng biasa tanpa penampilan yang neko-neko tetapi anomalinya nampak pada isi cerita dan cara bertutur Danarto yang tidak bercerita secara normal tentang kehidupan nyata dalam fiksi tetapi sebuah kehidupan entah-berentah yang penuh anomali. Jadi bukan dalam wujud tetapi dalam isi.
Sekali anomali Danarto terus membuncahkan kondisi anomali itu hingga pada gambar kulit buku yang menunjukkan binatang (wujud kuda) berkepala manusia perempuan cantik berambut panjang mengenakan mahkota dan bersayap dengan warna pelangi. Penampakan ini dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai kendaraan Nabi Muhammad ketiak melakukan perjalanan malam ke langit yang dikenal dengan Isyra’ Mi’rad. Dongeng purba yang senantiasa perlu digali dan dimaknai secara arif pada masa kini dan bukan sekedar anomali!
[1] Jaran adalah kata Bahasa Jawa yang berarti kuda
Anomali merupakan istilah dalam ilmu alam atau fisika tentang prilaku air pada titik nol derajat Celsius membeku menjadi batu padat dan kembali menjadi benda cair manakala titik beku itu telah melewati angka minus empat derajat Celcius. Meminjam istilah ilmu alam ini seperti juga Subagio Sastrowardoyo dalam membicarakan persajakan yang mengulang gaya pengungkapan maupun bentuk dengan istilah biologi: atavisme. Pada cerita-pendek (cerpen) Danarto yang terkumpul dalam Godlob, Berhala maupun Adam Ma’rifat (1982) nampak anomali dalam arti penyimpangan prilaku sebuah cerpen yang tidak seperti cerpen yang biasa ditemukan pada lembar koran minggu pagi maupun majalah hiburan yang terbit mingguan, dua mingguan maupun bulanan dan berkala (kala tengah tahunan maupun tahunan) yang dalam istilah seorang pakar cerpen dikatakan bacaan yang terselesaikan dibaca dalam sekali duduk untuk tidak mengatakan cerpen sebuah karya selingan sambil menunggu kereta, pesawat, bis atau angkutan datang, giliran membayar pajak atau utang bank maupun ketika di ruang tunggu pasien sebelum dipanggil.
Dari enam cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen Danarto: Adam Ma’rifat dengan gamblang akan terlihat ketidaklaziman dari sebuah judul cerpen yang merupakan partitur yang digunakan dalam membaca nada sebuah pagelaran musik dengan beberapa huruf ngung dan cak serta titik-titik yang terserak di antara baris bar nada partitur. Cerpen ini juga memulai dengan sebuah gambar (di halaman 38) yang terfokus pada bentuk busi yang menyunting sekuntum bunga (seperti mawar dan mirip dahlia ataupun aster – hairbrush – besar kemungkinan kembang sepatu!) diikuti deretan kata ngung (36 kali diselingi dengan “ng” kemudian enam “ngung berlanjut dengan NGUNG tujuh kali seakan sebuah pola alat bunyi yang ditabuh) diselang-seling dengan garis nada partitur musik tap hanya ada deretan angka maupun titik-titik yang berserak. Pada halaman berikutnya (kalau kita tidak bicara paragraf layaknya sebuah susunan kalimat menjadi paragraf) kata cak yang membentuk topografi segi tiga bersambungan dengan bentuk belah ketupat kemudian berubah kata ngung dihubungkan dengan titik-titik berpola topografi belah ketupat ditambah dengan deretan kata klst membentuk segitiga dan dibuntuti kata cak semacam ekor layang-layang diselingi kata
kur
cak
sebagai
musik
penyatu
sebuah
tarian
sakral
Danghyang
Jaran[1] (halaman 43)
Baru muncul sebuah alinea yang menerangkan sebuah alat yang tergambar (di halaman 44 yang dinamai pesawat pengurai (SMPVTU). Sampai pada batas ini terbayang sebuah sajak panjang dengan topografi dan kata yang berwujud “senggakan” – interjection yang dikenalkan 23761 dengan sebut puisi mbeling atau lugu(lalu apakah ini juga dapat disebut sebagai Cerita Pendek mbeling?).Cerita ini ditutup dengan topografi kalat cak yang melingkar, walaupun dalam alinea dan percakapan sebelumnya tersirat uraian dan ungkapan sebuah cerita upacara di sebuah pulau (Bali?) yang peserta upacara terhipnotis atau terhisap trance mengeliling alat pesawat pengurai: SMPVTU! Jadi ini bukan puisi!
Anomali yang lain selain cerita pendek yang dapat dikenal dengan kaidah pokok sebuah cerita dengan pembagian alinea maupun pemaparan cerita yang runut adalah adanya pengulangan alinea pada cerita “Bedoyo Robot Membelot”, tiga alinea awal ditulis sama, kemudian diikuti dengan kalimat pertama yang tak lengkap pada alinea ke empat. Cerita tentang guru tari yang sudah berusia 87 tahun ini berakhir pada penari bedoyo asuhannya yang masih gadis di bawah tujuh belas tahun mengilang dibawa kabut asap yang muncul dari dupa wangi cendana. Tarian itu juga menampilkan gerakan baru dengan tabuhan gamelan yang tiba-tiba semua penabuhnya tertidur. Cerita ini dikunci dengan pengingkaran Danarto bahwa semuanya terjadi biasa-biasa saja seperti zaman order baru membunuh dan orang hilang dianggap sebagai peristiwa normal dengan senyum simpul orang hilang dianggap hajatan minum kopi pagi hari dan tampak pada alinea terakhir:
“Ibu-bapak dan saudara-saudara yang hadir malam itu dalam kondisi yang sebagus-bagusnya. Mereka yakin bahwa dalam undangan pesta perkawinan itu tak pernah ada dicantumlah acara tarian.” (halaman 71)
Anomali cerita yang lain nampak pada cerita pendek yang digunakan sebagai judul buku: Adam Ma’rifat. Cerita ini hanya terdiri satu paragraf atau alinea. membaca cerita atau dongeng Danarto tentang Adam Ma’rifat nafas kita dikuras habis hingga pada titik ujung cerita diseling dengan satu barisan kata “tanah” sejumlah 43 baris yang terdiri dari kata 10 “tanah” setiap baris. Cerita pun berloncatan seakan kita menyeberangi sungai berbatu, jika kita kurang siaga akan terpeleset tergelincir masuk air yang deras. Seperti teroris yang meledakkan bom di sebuah terminal kereta api yang sibuk ujung cerita itu meledakkan nafas pembacanya dengan ”... Adam Ma’rifat, genangan selokan, kursi pemerintahan bahtera melaju terus, bank-bank meledak siapa kekasih Tuhan, yang cemara tak berderai, yang tupai tak lompat, Adam Ma’rifat, gendut karung di gudang, gendut di meja-meja, gendut tak bisa lompat bahtera melaju terus, hotel-hotel meledak, pabrik-pabrik meledak, kantor-kantor meledak tempat-tempat hiburan meledak, desa-desa meledak.” (halaman 27)
Membaca dongeng Danarto bukannya terhibur tapi mengernyitkan dahi untuk membuat sebuah pertanyaan yang beruntun. Cerita apa ini? Legenda? Mitos? Laporan pandangan mata? Apa ini sebuah tesis tentang Jangka Jayabaya yang masyhur dengan zaman edan? Dan memang beberapa tahun setelah Danarto usai menuliskan dan mencetak dongeng ini tanah air Indonesia dan dunia terguncang tingkah teroris yang dengan santai meledakkan bom demi bom dengan peristiwa yang paling spektakuler pada tanggal 9 September 2001 penabrakan dua pesawat komersial pada dua gedung pencakar langit yang bernama pusat perdagangan dunia yang kemudian runtuh rata dengan tanah sebagai mana 10 kata tanah Danarto.
Dalam membaca dongeng (cerita pendek) Danarto tidak hanya mengandalkan pemahaman struktur bahasa, maupun aliran pikiran normal, karena kadang-kadang (untuk menghindarkan kata selalu dan sering!) Danarto menumpuk sebuah percakapan pada bagian dari cerita pendek itu yang kadang tidak nyambung (itulah si Joko Sembung bawa golok!) mengingatkan dialog (percakapan) naskah drama Putu Wijaya yang menjadi langgan pemenang penulis lakon sayembara yang dilaksanakan oleh Dewan kesenian Jakarta tahun tujuh puluhan di antaranya “Aduh”, “Dag Dig Dug” dan naskah lakon yang dipentaskan semacam “Lho”, “Zat” dan “Aum” untuk menyebutkan beberapa judul.
Jangan dikira kita tidak mendapatkan apa-apa dari dongeng Danarto, karena ada beberapa yang bisa membaca peristiwa masa depan seperti teror bom Bali dengan judul “cak ngung ngung “ di gambarkan sebagai partitur musik. Danarto bernyanyi tentang anomali tingkah manusia yang cinta damai menjadi cinta kebutralan dan pembunuhan masal karena titik jenuh demokrasi yang bermartabat telah dilampaui dengan letikan peristiwa 11 September 2001 yang ditindak-lanjuti oleh Bush dengan menyerbu Afghanistan dan Iran secara bara-bara dan membabibuta dan benar-benar buta nurani karena nafsu balas dendam yang dilandasi dengan pemraktek demokrasi ala koboi Texas yang menganggap manusia hanyalah ternak berakal. Benar-benar titik kritis pembekuan nurani mulai mencair mengikuti ulah air saat titik beku melampau minus empat derajat Celsius. Danarto yang pelukis Jawa telah melampau titik anomali kreatifnya sehingga batas beku dan cair jadi membias dalam sebuah campuran (blend and mix) yang padu antara alur cerita paragrafis dan alur cerita grafis dan filmis. Benar-benar anomali!
Dari kumpulan Adam Ma’rifat hanya menyisakan cerita pembuka dengan judul Mereka toh tidak mungkin Menjaring Malaikat, Megatruh, dan Lahirnya sebuah Kota Suci yang secara wujud menunjukkan dongeng biasa tanpa penampilan yang neko-neko tetapi anomalinya nampak pada isi cerita dan cara bertutur Danarto yang tidak bercerita secara normal tentang kehidupan nyata dalam fiksi tetapi sebuah kehidupan entah-berentah yang penuh anomali. Jadi bukan dalam wujud tetapi dalam isi.
Sekali anomali Danarto terus membuncahkan kondisi anomali itu hingga pada gambar kulit buku yang menunjukkan binatang (wujud kuda) berkepala manusia perempuan cantik berambut panjang mengenakan mahkota dan bersayap dengan warna pelangi. Penampakan ini dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai kendaraan Nabi Muhammad ketiak melakukan perjalanan malam ke langit yang dikenal dengan Isyra’ Mi’rad. Dongeng purba yang senantiasa perlu digali dan dimaknai secara arif pada masa kini dan bukan sekedar anomali!
[1] Jaran adalah kata Bahasa Jawa yang berarti kuda
Rabu, 07 November 2007
SAJAK-SAJAK SERIBU BULAN 1428H
cunong nunuk suraja
NIGGER
ketika anjing menyalak tak menggigit
ketika anjing menggeram siap mengoyak
giginya yang menyeringai membelah langit
cakarnya menggaruk nasib pada malam kelam
pada dataran mimpi dewa-dewi dan peri gigi
2007-10-09
BITCH
perempuan yang berjalan menuju kegelapan
memuntahkan janin dalam gang-gang
menorehkan nasib pada jendela apartemen
meluncur menuju bumi untuk mati
dan dunia menyeringai bagi nama pahlawan devisa
2007-10-09
F _ _ K
maumu menyeringai dengan taring liberalisme
yang keluar sendawa bau alkohol murahan
merayapi malam dengan mimpi gelandangan
menancap pada makam kuno yang telah dibongkar
2007-10-09
MORON
apalagi yang kau tawarkan selain teh tawar
dalam senja yang temaram dengan bunyi gaduh cafe
hanyalah sendau-gurauan para penghuni malam yang sia-sia
2007-10-09
MALAM MALAMbukan lagi malam kalau tidak gelapkarena seribu bulan menantangpara kurcaci nyalakan lilin limapuluhenamdengan desis lirih semoga kau sampai di tujuan2007
DAMN IT!
dampak luka lelaki yang ditinggal lari perempuannya
menorehkan malam tanpa bintang di langit
dipindah di batok kepalanya
2007
Pasemon 1428 H
"Daging tak tersayatpada termometer"daging tak tersayattanpa cacatdicacah dalam dawatkegambiruredamdalam kelam menggelap1428 H
Orkes Mudikkudari balik jendela mayakuratapi genangan lumpuryang meredam arah mudikkublebeb blebeb blebebdari raihan tangan munggilkuhanya doa yang tersangkutmenggagap malam 1000 bulanblebeb blebeb blebeb2007
MALAM 1000 BULANada bunyi senyap merayap di kawat-kawat listriktertimpa hujan berpendar berkunang-kunangada bunyi sunyi meniti hari ketika dini haribintang pari tidak lagi sendirisetelah merangkaki malam menuju derajat ke limapuluhenamada yang menunduk rukuk bekudalam desis mohon ampundan 1000 bulan runtuhmenimbuni mimpi perjalanan hajiada yang tergegap sadarternyata ini bukan mimpi!2007
BULAN PURAMA 1428 Htidak bulat lagi menjelang dini harimenumpahkan cahya muram temaram dalam kamardalam dekap rinduku padamuyang tak lekang dilumat matahari pagilimapuluhenam tahun yang lalu2007
1000 BULAN MENJELANGada yang tak hilang-hilang dalam kenangsaat tangan berpagut dengan rahmaMuuntuk ke limapuluh enam kalinya2007
NIGGER
ketika anjing menyalak tak menggigit
ketika anjing menggeram siap mengoyak
giginya yang menyeringai membelah langit
cakarnya menggaruk nasib pada malam kelam
pada dataran mimpi dewa-dewi dan peri gigi
2007-10-09
BITCH
perempuan yang berjalan menuju kegelapan
memuntahkan janin dalam gang-gang
menorehkan nasib pada jendela apartemen
meluncur menuju bumi untuk mati
dan dunia menyeringai bagi nama pahlawan devisa
2007-10-09
F _ _ K
maumu menyeringai dengan taring liberalisme
yang keluar sendawa bau alkohol murahan
merayapi malam dengan mimpi gelandangan
menancap pada makam kuno yang telah dibongkar
2007-10-09
MORON
apalagi yang kau tawarkan selain teh tawar
dalam senja yang temaram dengan bunyi gaduh cafe
hanyalah sendau-gurauan para penghuni malam yang sia-sia
2007-10-09
MALAM MALAMbukan lagi malam kalau tidak gelapkarena seribu bulan menantangpara kurcaci nyalakan lilin limapuluhenamdengan desis lirih semoga kau sampai di tujuan2007
DAMN IT!
dampak luka lelaki yang ditinggal lari perempuannya
menorehkan malam tanpa bintang di langit
dipindah di batok kepalanya
2007
Pasemon 1428 H
"Daging tak tersayatpada termometer"daging tak tersayattanpa cacatdicacah dalam dawatkegambiruredamdalam kelam menggelap1428 H
Orkes Mudikkudari balik jendela mayakuratapi genangan lumpuryang meredam arah mudikkublebeb blebeb blebebdari raihan tangan munggilkuhanya doa yang tersangkutmenggagap malam 1000 bulanblebeb blebeb blebeb2007
MALAM 1000 BULANada bunyi senyap merayap di kawat-kawat listriktertimpa hujan berpendar berkunang-kunangada bunyi sunyi meniti hari ketika dini haribintang pari tidak lagi sendirisetelah merangkaki malam menuju derajat ke limapuluhenamada yang menunduk rukuk bekudalam desis mohon ampundan 1000 bulan runtuhmenimbuni mimpi perjalanan hajiada yang tergegap sadarternyata ini bukan mimpi!2007
BULAN PURAMA 1428 Htidak bulat lagi menjelang dini harimenumpahkan cahya muram temaram dalam kamardalam dekap rinduku padamuyang tak lekang dilumat matahari pagilimapuluhenam tahun yang lalu2007
1000 BULAN MENJELANGada yang tak hilang-hilang dalam kenangsaat tangan berpagut dengan rahmaMuuntuk ke limapuluh enam kalinya2007
Langganan:
Postingan (Atom)